Ratusan Buruh dari Depok Berangkat ke Jakarta Tuntut Pencabutan PP 78 Tahun 2015

Wahyu Muntinanto, Okezone · Rabu 01 Mei 2019 10:45 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 01 337 2050158 ratusan-buruh-dari-depok-berangkat-ke-jakarta-tuntut-pencabutan-pp-78-tahun-2015-jjeg5pbCQ4.jpg Ilustrasi Buruh Melakukan Aksi Demonstrasi di Peringatan May Day (foto: Okezone)

DEPOK - Peringatan hari buruh Internasional yang jatuh pada 1 Mei dirayakan oleh sejumlah buruh dengan berbagai macam aksi di Indonesia, salah satunya melakukan unjuk rasa yang digelar di Patung Kuda, Jakarta Pusat.

Federasi Serikat Pekerja Metal Seluruh Indonesia (FSPMI) Cabang Kota Depok Jawa Barat pagi ini akan memberangkatkan ratusan buruh yang bekerja dari berbagai pabrik di sekitar Depok ke Jakarta.

Baca Juga: Peringati May Day, Ribuan Buruh Padati Tennis Indoor Senayan 

"Hari ini kita berangkat dengan kekuatan 300 buruh yang berangkat dari Depok," kata Ketua FSPMI Cabang Kota Depok Wido Pratikno saat dihubungi wartawan, Rabu (1/5/2019).

Dia mengaku bahwa aksi unjuk rasa para buruh ini tidak akan digelar di Depok, lantaran sudah terjadi kesepakatan dengan sejumlah instansi terkait. Mereka tidak akan turun ke jalan-jalan di daerah Depok.

"Ratusan buruh ini Rabu pagi berangkat dari pabrik Xacti di Jalan Raya Bogor menuju titik kumpul di Patung Kuda, Jakarta Pusat. Kami berangkat ke Jakarta menggunakan bus dan juga sepeda motor," ucapnya.

Ratusan buruh FSPMI nantinya akan berlumpul dengan ribuan buruh dari wilayah lain di Patung Kuda dan akan menyampaikan beberapa aspirasi buruh, di antaranya cabut PP 78 Tahun 2015.

Menurutnya sejak PP 78 ini diberlakukan, peran serikat pekerja dalam menentukan upah buruh tidak ada andil.

"Kebijakan upah buruh ditentukan oleh tripartit yaitu pemerintah, pengusaha dan serikat pekerja. Tapi sejak PP 78, upah buruh ditentukan oleh pemerintah, sehingga kebebasan berserikat hilang," ucap Wido.

Baca Juga: Polda Metro Pantau 8 Titik Lokasi Demo Buruh 

"Kami mendesak pemerintah untuk mencabut out sourcing dan pemagangan. Karena outsourcing dan pemagangan merupakan bentuk perbudakan modern," sambungnya.

Mengenai upah, Wido juga berharap agar buruh di Kota Depok mendapatkan upah yang layak. Dia mengaku sudah punya hitung-hitungannya berdasarkan klasifikasi misalnya untuk lajang dan yang sudah berkeluarga.

"Kami sudah punya hitung-hitungannya idealnya adalah di atas Rp8 juta," ucapnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini