Share

Ketua Dewan Pers: Radio Harus Kembali ke Jati Dirinya

Muhamad Rizky, Okezone · Senin 29 April 2019 20:08 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 29 337 2049548 ketua-dewan-pers-radio-harus-kembali-ke-jati-dirinya-SwJAxSYboW.jpg Ketua Dewan Pers Stanley Yoseph Adi Prasetyo di Pembukaan Munas XV PRSSNI di Hotel El Royale, Jakarta (foto: Ist)

JAKARTA – Di tengah serbuan internet, media sosial dan aplikasi luar yang memiliki kelengkapan konten dan teknologi. Radio justru harus kembali ke jati dirinya sebagai media dengan rasa dan kekayaan lokal.

Radio masih dibutuhkan tapi siarannya harus mencerminkan kebutuhan masyarakat pendengarnya agar tidak ditinggal pergi. Demikian disampaikan Ketua Dewan Pers, Stanley Yoseph Adi Prasetyo dalam sambutannya di pembukaan Munas XV PRSSNI di Hotel El Royale, Jakarta, Senin (29/4/2019).

Baca Juga: Munas PRSSNI Bahas Tantangan Radio di Era Digital 

Menurut Stanley, kekuatan konten lokal adalah keunikan sekaligus kekuatan radio yang sekarang mulai dilupakan pengelola radio.

"Radio itu lokal, tapi pengalaman saya ke beberapa daerah di kawasan barat, tengah, hingga ujung timur, saya dengarkan radionya, isinya, cara ngomongnya lo gue juga, sama persis dengan Jakarta. Kalau begini, di mana lokalitasnya?” ungkap Stanley.

Bahkan Stanley meyakini kalau radio itu bisa membangkitkan ekonomi atau UKM di suatu daerah bahkan pariwisata di kawasan tersebut. Caranya dengan terus menerus memberikan konten lokal berupa kekayaan, keunikan, sumber daya di wilayah tersebut. Yang disebar melalui radio dan semua perangkat yang dimilikinya.

"Saya yakin radio memiliki kemampuan mengubah yang luar biasa dan meningkatkan perekonomian daerah yang ujungnya berdampak pada bisnis radio di daerah tersebut,” ujarnya.

Baca Juga: Resmi Dibuka, Munas Persatuan Radio Swasta Diharapkan Bisa Persatukan Bangsa 

Stanley yakin diversity of content sebagai modal bagi radio untuk tetap bertahan. Tentu dengantetap menyesuaikan dengan situasi saat ini. Dimana era digital sudah masuk begitu deras dalamkehidupan masyarakat.

“Bagi saya, keragaman dan kualitas konten adalah kunci, lokalitas itu powerfull. Silakan teknologi, digital masuk. Tapi radio, jurnalisme radio akan tetap hidup,” ucapnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini