nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gagal Ginjal Kronis, Setya Novanto Dirawat di RSPAD Gatot Subroto

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Senin 29 April 2019 16:17 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 29 337 2049430 gagal-ginjal-kronis-setya-novanto-dirawat-di-rspad-gatot-subroto-rYxZQfa6wU.jpg Terpidana korupsi proyek e-KTP, Setya Novanto (Foto: Heru Haryono/Okezone)

JAKARTA - Terpidana perkara korupsi proyek pengadaan e-KTP, Setya Novanto (Setnov) ‎mendapat izin dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, untuk menjalani perawatan dan tindakan medis di RSPAD, Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

"Memang benar Saudara Setnov sekarang berada di RSPAD Gatot Subroto, melaksanakan perawatan dan tindakan medis dengan diagnosa," kata Kalapas Sukamiskin, Tejo Harwanto kepada Okezone, Senin (29/4/2019).

Menurut Tejo, tindakan medis yang dilakukan Lapas Sukamiskin untuk melarikan Setnov ke RSPAD Gatot Subroto berdasarkan hasil diagnosa tim dokter. Berdasarkan hasil diagnosa tim dokter yang dibeberkan oleh Tejo, Setnov menderita sejumlah penyakit.

Penyakit yang diderita mantan Ketua DPR RI tersebut di antaranya yakni, Chronic Kidney Disease (CKD) atau gagal ginjal kronis‎, vertigo, serta Coronary Artery Disease (CAD) atau kelainan pada pembuluh darah di bagian jantung.

"Diagnosanya CKD, CAD, DM Tipe 2, Vertigo, Radikulopati L4-5. Itu bahasa kedokteran," ujar Tejo.

Tejo menjelaskan, sebelum Setnov dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto, mantan Ketum Golkar tersebut sudah sempat diperiksa oleh tim dokter di Lapas Sukamiskin dan salah satu RS Bandung.

Setya Novanto

Hasilnya, harus dirujuk ke RSPAD Gatot Subroto. Tak hanya itu, Tejo menekankan bahwa Setnov dikawal oleh petugas dari Lapas Sukamiskin dan pihak Kepolisian saat menjalani perawatan medis di RSPAD Gatot Subroto.

"Sudah melakukan pemeriksaan di Lapas Sukamiskin dan RS di Bandung. Iya (dikawal) dari petugas Lapas dan pihak kepolisian," tuturnya.

Setnov sendiri telah divonis bersalah karena terlibat dalam perkara korupsi proyek e-KTP. Oleh pihak pengadilan, Setnov divonis 15 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsidair 6 bulan kurungan.

Selain itu, dia juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar USD7,3 juta serta dicabut hak politiknya selama lima tahun pasca-menjalani pidana pokoknya.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini