nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ahli Bahasa Jelaskan Makna "Keonaran" di Sidang Ratna Sarumpaet

Fahreza Rizky, Okezone · Kamis 25 April 2019 12:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 25 337 2047855 ahli-bahasa-jelaskan-makna-keonaran-di-sidang-ratna-sarumpaet-JyXPE8rrga.JPG Ahli Bahasa, Wahyu Wibowo bersaksi di sidang Ratna Sarumpaet (Foto: Fahreza Rizky/Okezone)

JAKARTA - Sidang lanjutan penyebaran berita bohong atau hoaks dengan terdakwa Ratna Sarumpaet kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (25/4/2019). Sidang kali ini menghadirkan saksi ahli bahasa dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Koordinator JPU pada kasus Ratna Sarumpaet, Daroe Tri Sadono mulanya menanyakan pada ahli perihal makna keonaran terkait kasus penyebaran hoaks penganiayaan ibunda artis Atiqah Hasiholan itu.

Ahli filsafat bahasa, Wahyu Wibowo lalu menjelaskan bahwa keonaran memiliki arti keributan. Keonaran itu bisa terjadi secara fisik ataupun non-fisik.

"Tapi bisa juga gaduh, heran, itu juga onar dalam konteks filsafat bahasa," ucap Wahyu saat memberikan keterangannya di persidangan.

Menurut Wahyu, keonaran juga bisa terjadi di media sosial sebagai manifestasi dari keributan non-fisik dalam perspektif filsafat bahasa. Pasalnya media sosial mewakili pernyataan lisan. "Karena media sosial itu wakil dari lisan," kata dia.

Keonaran, lanjut Wahyu, mulanya bisa dilakukan oleh dua orang saja. Namun pada kelanjutannya, keonaran bisa melibatkan atau berdampak pada banyak orang. "Dua saja sudah cukup, dalam perkembangan selanjutnya harus melibatkan orang lebih banyak," tuturnya.

Sidang Ratna Sarumpaet

Diketahui sebelumnya, kasus hoaks Ratna Sarumpaet sendiri bermula dari foto lebam wajahnya yang beredar luas di media sosial. Sejumlah tokoh mengatakan Ratna dipukuli orang tidak dikenal di Kota Bandung, Jawa Barat.

Tiba-tiba Ratna mengklarifikasi kalau berita penganiayaan terhadap dirinya itu bohong. Ratna mengaku mukanya lebam setelah menjalani operasi plastik. Akibatnya, hampir seluruh masyarakat tertipu olehnya.

Dalam perkara ini Ratna Sarumpaet didakwa melanggar Pasal 14 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana atau dakwaan kedua Pasal 28 Ayat (2) juncto 45A Ayat (2) Undang-undang 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Ratna didakwa telah membuat keonaran melalui berita bohong yang dibuatnya.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini