nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPU Harus Dikawal dan Dikoreksi, tapi Jangan Dicaci Maki

Antara, Jurnalis · Selasa 23 April 2019 14:48 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 23 337 2046992 kpu-harus-dikawal-dan-dikoreksi-tapi-jangan-dicaci-maki-cpnVKzbDw0.JPG Cendekiawan Muslim, Komaruddin Hidayat (Foto: Instagram)

JAKARTA - Cendekiawan muslim, Komaruddin Hidayat mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang telah menyelenggarakan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) 2019, dan tidak melontarkan caci maki atau kata-kata yang tidak bersifat membangun kepada institusi tersebut.

"KPU kan produk DPR, jadi kita harus bantu mereka, satu dibantu bebannya, kedua dikawal agar jujur dan adil, agar transparan harus dibantu karena transisi pemerintahan itu nasibnya di KPU," ujarnya, dikutip dari Antaranews, Selasa (23/4/2019).

Menurut Komarudin, KPU memegang peranan krusial dalam membawa transisi pemerintahan. Jika kinerja KPU gagal dalam penyelenggaraan pemilu maka pemerintahan Indonesia bisa menjadi tidak stabil.

"Bayangkan coba kalau KPU ini gagal menyelenggarakan pemilu, apa yang terjadi, ini kan kacau, bisa nanti negara darurat, ribut," kata dia.

Menurutnya, KPU mengemban tugas berat untuk menyelenggarakan pemungutan suara di seluruh Indonesia dan bagi masyarakat Indonesia di luar negeri untuk pemilihan pemimpin masa depan.

Gedung KPU

Oleh karena itu, KPU harus didukung baik sebelum maupun sesudah pemungutan suara untuk membantu menyukseskan pemilihan umum (pemilu) dan menjaga kondisi tetap stabil.

"Jadi, KPU itu tugasnya berat sekali harus dibantu, dan harus dikawal dikoreksi, didampingi, tapi jangan dicaci maki, melainkan dibantu biar benar kinerjanya karena KPU itu milik bersama, itu lembaga independen," tuturnya.

Fasilitas dan beban yang diberikan kepada penyelenggara pemilu juga menurutnya harus seimbang. "Lalu masyarakat itu hendaknya ikut partisipasi, sekarang ini kan teror terhadap KPU berat sekali, dibilang curang dan sebagainya, itu menjadi beban mental," ujar Komarudin.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini