nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

PVMBG Jelaskan Kondisi Gunung Agung Pasca Erupsi

CDB Yudistira, Jurnalis · Senin 22 April 2019 14:20 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 22 337 2046457 pvmbg-jelaskan-kondisi-gunung-agung-pasca-erupsi-cJLdjpYKBU.jpg Kondisi Gunung Agung Pasca Erupsi (foto: Twitter)

BANDUNG - Gunung Agung, yang berada di Kabupaten Karangasem, Bali, sejak awal 2019 sudah beberapa kali erupsi abu dengan waktu jeda berkisar 1-3 minggu. Pada 4 April 2019 terjadi erupsi tipe Strombolian.

Gunung yang miliki ketinggian di 3142 MDPL itu mengalami erupsi lagi pada 21 April 2019 sebanyak 2 kali, yaitu Pukul 03:21 WITA dan 18:56 WITA dengan tinggi kolom abu 2.000-3.000 meter di atas puncak gunung.

Baca Juga: Gunung Agung Kembali Erupsi, Tinggi Kolom Abu Vulkanis 3.000 Meter 

Di sampaikan itu, PVMBG juga mengevaluasi aktivitas Gunung Agung terkini, data pemantauan secara visual, aktivitas permukaan masih didominasi oleh hembusan asap putih maupun sesekali erupsi abu disertai lontaran lava pijar.

 

Dalam 1 bulan terakhir teramati 5 kali erupsi dengan skala kecil. Pada 21 April 2019, sejak pukul 00:00 WITA hingga saat ini erupsi terjadi sebanyak 2 kali. Erupsi pertama terjadi pada pukul 03:21 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 2.000 meter di atas puncak (± 5.142 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat daya.

Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 25 mm (overscale) dan durasi ± 2 menit 55 detik. Erupsi kedua terjadi pada pukul 18:56 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 3.000 m di atas puncak (± 6.142 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong kearah barat.

"Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 25 mm (overscale) dan durasi ± 1 menit 22 detik," kata Kepala PVMBG Kasbani, Senin (22/4/2019).

Secara seismik, kata Kasbani, aktivitas Gunung Agung masih didominasi oleh gempa-gempa dengan konten frekuensi rendah yang mencerminkan aktivitas aliran fluida di kedalaman dangkal berupa Gempa Hembusan dan sesekali Gempa Letusan.

Kegempaan frekuensi tinggi yang mencerminkan peretakkan batuan di dalam tubuh gunung api akibat pergerakan magma di kedalaman berupa Gempa Vulkanik Dalam maupun Vulkanik Dangkal masih terekam dengan intensitas relatif rendah.

Dominannya kegempaan dengan konten frekuensi rendah dibandingkan dengan konten frekuensi tinggi juga mencerminkan bahwa aliran fluida magmatik ke permukaan relatif lancar karena sistem sudah cenderung terbuka.

"Secara deformasi, dalam 1 bulan terakhir Gunung Agung mengalami fluktuasi berupa inflasi (penggembungan) maupun deflasi (pengempisan). Volume magma yang bergerak di bawah permukaan teramati dalam jumlah yang kecil (kisaran 1 juta meter kubik)," ucapnya.

Aktivitas Vulkanik Gunung Agung (foto: PVMBG)	 

Data deformasi masih mengindikasikan aktivitas Gunung Agung masih belum stabil dan masih berpotensi untuk terjadi erupsi dengan skala relatif kecil.

Secara penginderaan jauh, citra satelit termal mengindikasikan masih adanya hotspot (titik panas) di kawah Gunung Agung terutama pada bagian lava yang berbatasan dengan dinding kawah.

Hal ini mengindikasikan masih adanya pergerakan fluida magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Kubah lava di dalam kawah masih relatif tidak berubah volumenya dari periode erupsi 2017-2018 yaitu sekitar 25 juta m3 atau sekitar 40% dari volume kosong kawah.

PVMBG juga menganalisis Gunung Agung masih berpotensi untuk terjadi erupsi baik secara eksplosif (Strombolian- Vulkanian skala kecil) maupun secara efusif (aliran lava kedalam kawah).

Evaluasi data pemantauan terkini mengindikasikan bahwa potensi untuk terjadinya erupsi besar masih belum teramati.

"Aktivitas Gunung Agung masih berada dalam kondisi yang dinamis dan trend aktivitas dapat berubah sewaktu-waktu. Potensi bahaya," urainya.

Baca Juga: Gunung Agung Erupsi, Bandara Ngurah Rai Bali Tetap Beroperasi Normal

Ancaman bahaya yang paling mungkin terjadi saat ini berupa lontaran batu/lava pijar di dalam hingga keluar kawah, maupun hujan pasir dan abu yang arah penyebarannya bergantung pada arah dan kecepatan angin.

Lahar hujan dapat terjadi jika terjadi hujan dan membawa material erupsi melalui aliran-aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Agung. Emisi gas vulkanik beracun kemungkinan hanya berada di sekitar area kawah puncak.

Dengan begitu, PVMBG menyimpulkan aktivitas Gunung Agung masih belum stabil dan masih berpotensi terjadi erupsi sehingga disimpulkan tingkat aktivitasnya tetap berada pada Level 3 (Siaga).

PVMBG merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki, pengunjung, wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak Gunung Agung.

Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling terbaru.

Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan.

"Mengingat masih adanya potensi ancaman bahaya abu vulkanik dan mengingat bahwa abu vulkanik dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) pada manusia, maka diharapkan seluruh masyarakat, utamanya yang bermukim di sekitar Gunung Agung agar senantiasa menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun pelindung mata sebagai upaya antisipas ipotensi ancaman bahaya abu vulkanik," paparnya.

PVMBG juga meminta Pemerintah Daerah, BNPB dan instansi atau lembaga terkait lainnya agar terus menjaga komunikasi di antara pihak-pihak terkait mitigasi bencana letusan Gunung Agung sehingga proses diseminasi informasi yang rutin dan cepat dapat terus terselenggara dengan baik.

"Terakhir untuk menjaga kondusivitas suasana di Pulau Bali, tidak menyebarkan berita bohong (hoaks) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi Gunung Agung yang tidak jelas sumbernya," tutur dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini