nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kala Pileg Jadi "Anak Tiri" Pilpres di Pemilu Serentak 2019

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Sabtu 20 April 2019 11:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 20 337 2045797 kala-pileg-jadi-anak-tiri-pilpres-di-pemilu-serentak-2019-VSy2ZxWbKh.jpg Masyarakat memberikan hak suaranya di Pemilu Serentak 2019.

JAKARTA - Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 merupakan sejarah baru dalam perpolitikan Indonesia. Pasalnya, pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) digelar secara serentak. Ini berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait Undang-Undang (UU) Pemilu.

Namun, perhelatan pileg dan pilpres serentak ini menelurkan perdebatan dan evaluasi tersendiri. Terlebih lagi usai proses pencoblosan 17 April 2019. Salah satunya dari pengamatan Denny JA, pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Lantaran dilaksanakan secara serentak, pelaksanaan pileg menjadi seperti "anak tiri" dari pilpres. Maklum, khalayak begitu larut dengan pertarungan antar pasangan calon presiden dan wakil presiden.

"Kami melihat 70 persen percakapan publik lebih ke pemilihan presiden. Pileg jadi anak tiri, hanya 30 persen," kata Denny JA pekan ini.

Padahal, figur dan partai politik yang akan mengisi parlemen adalah hal yang penting. Mengingat, legislatif menjadi salah satu pilar demokrasi.

Tingkat Partisipasi Pemilih pada Pemilu 2019 Meningkat

Selain itu, pelaksanaan pileg dan pilpres secara serentak dinilai membuka kultur pengkhianatan terhadap partai politik. Seyogianya, para calon legislatif tidak hanya memperjuangkan dirinya tetapi juga capres. Dalam realitas politik, ketika ke dapil dan capres yang diusung partai tidak populer, maka caleg akan melakukan manuver. Bisa jadi, caleg tersebut tidak memperjuangkan atau mengampanyekan capres yang diusung partainya.

"Jika pemilihan presiden digabung pileg, maka kita lihat lebih detail buruknya kultur politik yang akan tercipta," kata Denny JA.

Kelemahan lainnya adalah, keuntungan pemilu serentak ini hanya dinikmati oleh beberapa partai politik. Berkah itu turun kepada partai yang memiliki asosiasi dengan para calon presiden dan wakil presiden yang bertarung, atau biasa disebut coattail effect atau ekor jas.

Lipsus

Adapun, partai politik yang mendapatkan efek ekor jas versi LSI Denny JA antara lain, PDIP, Gerindra dan PKB. Dari hasil quick count LSI, partai itu merupakan lima besar pemenang Pemilu 2019.

“Kami melihat data ada kemungkinan Golkar dalam sejarahnya tidak berada di urutan kedua. Nomor satu PDIP karena dekat dengan Jokowi dan Gerindra kedua karena dekat Prabowo Subianto. Jadi, untuk Golkar masih di posisi abu-abu, bisa nomor dua atau tiga," ungkap Denny.

Terakhir, evaluasi Pemilu serentak ini adalah, tenggelamnya elektabilitas para Caleg yang berlaga. Menurut Denny, motif pemilih caleg semakin kurang karena ruang publik lebih banyak ke persoalan capres dan cawapres.

Karena itu, Denny menegaskan eksperimen kawin campur Pileg dan Pilpres ini tidak mendorong kultur yang sehat dalam demokrasi dan politik.

"Kalau bisa bisa ini pertama dan terakhir (pemilu serentak)," ucap Denny.

Selain itu, Denny menyebutkan, partisipasi masyarakat dalam proses pencoblosan lebih tinggi terhadap pilpres dibandingkan pileg. Hal itu terbukti dari data sementara penghitungan cepat terkait dengan angka golput.

Dalam nilai persentase, sebanyak 70 persen publik lebih condong membicarakan pilpres. Sementara angka golput, untuk pilpres hanya 19,27 persen, dan ppileg sebesar 30,05 persen.

"Kami melihat mereka yang datang ke TPS fokus ke presuden tetapi tidak ke partai politik," ujarnya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini