nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kronologi Kapal Patroli KKP Diintimidasi Malaysia di Perairan Indonesia

Rizka Diputra, Jurnalis · Rabu 10 April 2019 20:48 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 10 337 2041759 kronologi-kapal-patroli-kkp-diintimidasi-malaysia-di-perairan-indonesia-1NyP9oaQNa.JPG Kapal Malaysia cegat dan kejar Kapal Patroli RI di Perairan Belawan (Foto: WhatsApp)

JAKARTA - Gesekan antara kapal patroli laut Indonesia dan Malaysia sudah berulang kali terjadi. Teranyar, kapal milik pemerintah Malaysia mengintimidasi kapal patroli laut Indonesia saat bertugas menjaga kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (PSDKP KKP), Agus Suherman menjelaskan kronologi lengkap gesekan kapal kedua negara bertetangga ini. Berikut kronologinya berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Okezone, Rabu (10/4/2019):

3 April 2019

Pukul 07.20 WIB

Radar KP. Hiu 08 milik Indonesia mendeteksi adanya 2 unit kapal ikan berbendera Malaysia di ZEEI Selat Malaka dengan posisi 04o 16.35’ N, 99o 24.20’ E.

Pukul 08.15 WIB

KP. Hiu 08 mendeteksi secara visual keberadaan KM. PKFB 1852 dan KM. KHF 1256 berbendera Malaysia pada posisi 04o 20.922 N, 99o 38.107’ E.

Pukul 08.40 WIB

KP. Hiu 08 melakukan pengejaran atas kedua kapal tersebut.

Pukul 09.05 WIB

KP. Hiu 08 melakukan prosedur penghentian, pemeriksaan dan penahanan (henrikhan) atas KM. KHF 1256 pada posisi 04o 21.809’ N, 99o 45.101’ E.

Pukul 09.13 WIB

Henrikhan dilakukan atas KM. PKFB 1852 pada posisi 04o 22.623’ N, 99o 46.587’ E.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa KM. PKFB 1852 berukuran 64.71 GT dengan alat tangkap trawl yang diawaki empat orang terdiri atas dua orang berkewarganegaraan Thailand termasuk nakhoda dan dua orang berkewarganegaraan Kamboja," ucap Agus.

Sedangkan, KHF 1256 berukuran 53.02 GT dengan alat tangkap trawl kata Agus, diawaki oleh tiga orang berkewarganegaraan Thailand. Kedua kapal tersebut didapati tidak memiliki ijin dari Pemerintah Indonesia dan menggunakan alat tangkap yang dilarang. Selanjutnya, kedua kapal dibawa ke Stasiun PSDKP Belawan untuk dilakukan proses hukum oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perikanan.

Kapal Patroli RI Dikejar Malaysia

Pukul 12.00 WIB

Saat KP. Hiu 08 dalam proses membawa kapal tangkapan, mengidentifikasi kedatangan kapal Maritim Malaysia jenis speedboat dengan nama Penggalang 13 yang melakukan manuver dan mendekati kapal tangkapan serta KP. Hiu 08 yang berada di dalam perairan Indonesia.

Selanjutnya kapal Malaysia itu merapat ke KP. Hiu 08 pada posisi 04o 17.327’ N, 99o 35.45’ E atau 17,1 NM dari batas ZEE Indonesia, dan meminta KP Hiu 08 untuk melepaskan ke dua kapal yang ditangkap. Permintaan tersebut ditolak oleh KP. Hiu 08 dan PENGGALANG 13 mencoba meminta kembali agar 1 kapal saja yang dilepas.

"Namun demikian permintaan tetap ditolak oleh KP. Hiu 08. Pada saat yang bersamaan Penggalang 13 melakukan negosiasi dengan KP. Hiu 08, hadir juga 3 helikopter yang terbang mengitari KP. Hiu 08 dan kedua kapal tangkapan," tuturnya.

Kemudian setelah negosiasi menemui jalan buntu, Kapal Penggalang 13 beserta 3 helikopter meninggalkan KP. Hiu 08 kembali ke perairan Malaysia, sedangkan KP. Hiu 08 kemudian melanjutkan pelayaran membawa kapal kedua kapal tangkapan ke Stasiun PSDKP Belawan dan tiba pada pukul 21.30 WIB.

9 April 2019 :

Pukul 14.50 WIB

KKP melalui KP. Hiu Macan Tutul 02, melaksanakan henrikhan atas KM. PKFA 8888 WPP-NRI 571 pada posisi 03o 45.019’ N – 100o 09.829’ E (ZEEI Selat Malaka).

Pukul 15.16 WIB

Pada posisi 03o 40.723’ N – 100o 13.810’ E (ZEEI Selat Malaka), KP. Hiu Macan Tutul 02 melakukan henrik KM. PKFA 7878. Kedua kapal tangkapan selanjutnya dibawa menuju Pangkalan PSDKP Batam.

Hasil pemeriksaan menunjukan bahwa KM. PKFA 8888 berbendera Malaysia dengan bobot 61.70 GT menggunakan alat tangkap trawl yang diawaki 5 orang berkewarganegaraan Myanmar. Sedangkan KM. PKFA 7878 tanpa bendera dengan bobot 67.63 GT menggunakan alat tangkap trawl yang diawaki oleh 4 orang berkewarganegaraan Myanmar.

Kedua kapal tersebut didapati tidak memiliki ijin dari Pemerintah Indonesia dan menggunakan alat tangkap yang dilarang. Selanjutnya kedua kapal dibawa ke Stasiun PSDKP Batam untuk dilakukan proses hukum oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perikanan.

Pukul 18.20 WIB

Dalam proses membawa kedua kapal tangkapan tersebut, pada posisi 03o 22. 705’ N – 100o 23.700’ E atau 10 NM dari batas ZEE Indonesia, hadir helikopter Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) yang terbang rendah mengitari KP. Hiu Macan Tutul 02.

Melalui komunikasi radio channel 16 meminta kepada KP. Hiu Macan Tutul 02 agar kedua kapal ikan berbendera Malaysia yang ditangkap bisa dilepaskan. KP. Hiu Macan Tutul 02 menyampaikan penolakan melepas kedua kapal tangkapan tersebut.

Awak Kapal Patroli RI

"Setelah dilakukan penolakan, sebelum meninggalkan lokasi, helikopter APMM berputar-putar mengitari KP. Hiu Macan Tutul 02 untuk melakukan intervensi. Namun, KP. Hiu Macan Tutul 02 tetap melanjutkan pelayaran membawa kedua kapal tangkapan ke Pangkalan PSDKP Batam," kata Agus menerangkan.

Untuk mencegah insiden serupa tak lagi terulang di kemudian hari, KKP bersama-sama dengan TNI Angkatan Laut (AL) dan Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI akan lebih menggiatkan kegiatan patroli di wilayah ZEEI Selat Malaka. Kehadiran kapal TNI AL dan Bakamla diyakini akan mampu menangkal dan melawan segala tindakan yang merupakan rintangan bagi penegakan kedaulatan Indonesia terutama di Wilayah Natuna Utara.

"Selain itu, KKP segera mengirimkan surat permintaan kepada Kementerian Luar Negeri untuk melayangkan nota protes kepada Pemerintah Malaysia. Diharapkan Pemerintah Malaysia dapat mengambil langkah-langkah untuk mencegah kegiatan illegal fishing yang dilakukan oleh kapal-kapal perikanannya di perairan Indonesia," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini