nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mantan Bendahara Kemenpora Akui Pernah Diperintah Aspri Imam Nahrawi untuk Cari Uang

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Kamis 04 April 2019 17:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 04 337 2039084 mantan-bendahara-kemenpora-akui-pernah-diperintah-aspri-imam-nachrawi-untuk-cari-uang-yu0BJtTn65.jpg Ilustrasi Korupsi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Mantan Bendahara Pengeluaran Pembantu Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Supriyono mengaku pernah diminta oleh Asisten Pribadi Menpora, Miftahul Ulum, untuk mencari uang. Supriyono diminta Ulum untuk mencari uang dari pejabat di luar Kemenpora.

Menurut Supriyono, uang-uang dari pihak eksternal dikumpulkan Miftahul Ulum untuk keperluan atau kegiatan Menpora, Imam Nahrawi. Hal itu diminta Miftahul Ulum ke Supriyono dalam beberapa kali.

"Kalau buka bersama, yang sifatnya sama menteri pernah minta uang. Ada untuk makan, buka puasa, itu beberapa kali," ujar Supriyono saat bersaksi terkait perkara dugaan suap pengurusan hibah atau dana bantuan untuk petinggi KONI di Pengadilan‎ Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (4/4/2019).

Supriyono mengatakan, jumlah uang yang diminta Miftahul Ulum besarannya mencapai puluhan juta rupiah. ‎Namun, sambungnya, kegiatan yang dibiayai oleh uang dari pihak eksternal tersebut bukan bagian dari tugasnya sebagai Bendahara Kemenpora.

"Besarannya tidak lebih dari Rp20 juta. Itu bukan tugas (saya), tapi perintah pimpinan," pungkasnya.

Baca Juga: Aspri Imam Nahrawi Disebut-sebut Ngatur Suap untuk Pejabat Kemenpora

Duit

Dalam perkara ini, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Ending Fuad Hamidy dan Bendahara Umumnya, Johny E Awuy didakwa telah menyuap pejabat Kementeriaan Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Pejabat Kemenpora yang diduga menerima suap dari dua petinggi KONI itu yakni, Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, Mulyana, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Adhi Purnomo serta seorang staf Kemenpora, Eko Triyanto.

Kedua petinggi KONI tersebut menyuap pejabat Kemenpora dengan tujuan untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan dana hibah Kemenpora RI yang akan diberikan kepada KONI.

Johny dan Ending didakwa menyuap pejabat Kemenpora dengan memberikan satu unit Toyota Fortuner hitam, uang Rp300 juta, kartu ATM debit BNI dengan saldo Rp100 juta, serta Ponsel merek Samsung Galaxy Note 9.

Atas perbuatanya, keduanya didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1, Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini