nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sopir Sebut Ratna Sarumpaet Tak Setuju Prabowo Konpers

Muhamad Rizky, Jurnalis · Selasa 02 April 2019 12:08 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 02 337 2038167 sopir-sebut-ratna-sarumpaet-tak-setuju-prabowo-konpers-r7x8szkVsz.jpg Persidangan Ratna Sarumpaet di PN Jakarta Selatan (Foto: Muhamad Rizky)

JAKARTA - Sopir pribadi terdakwa kasus penyebaran berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet, Ahmad Rubangi dihadirkan sebagai saksi oleh jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Dalam kesaksiannya, Ahmad mengaku sempat mengantar Ratna Sarumpaet ditemani dengan dua orang karyawannya majikannya itu, yakni Saharudin dan Makmur Julianto alias Pele ke wilayah Sentul, Bogor.

"Tanggal 2 Oktober 2018 saya ibu dan dua orang (Saharudin dan Julianto Makmur) pergi. Saya enggak tahu itu tempat siapa tapi disitu banyak kuda, saya baca Polo Sentul," kata Ahmad di persidangan, Selasa, (2/4/2019).

(Baca Juga: Sambil Menangis, Ratna Mengaku ke Drivernya Habis Dipukuli Orang

Di sana Ratna menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 jam. Namun, ia hanya diminta untuk menunggu di parkiran mobil setelah itu kembali ke rumah Ratna.

"(Dalam perjalanan pulang) saya dengar Pak Prabowo mau ada konpers (konferensi pers) soal pemukulan ibu. Ibu sebenarnya enggak setuju dengan adanya jumpa pers," ucapnya.

Ratna Sarumpaet 

Karena tidak setuju itu pula lanjutnya, Ratna tidak kembali kerumahnya melainkan pulang ke rumah anaknya di kawasan Pondok Bambu Jakarta Timur. "Ibu pulang ke rumah anaknya di Pondok Bambu," paparnya.

Diketahui sebelumnya, kasus hoaks Ratna bermula dari foto lebam wajahnya yang beredar di media sosial. Sejumlah tokoh mengatakan Ratna dipukuli orang tak dikenal di Bandung, Jawa Barat.

(Baca Juga: Sidang Lanjutan Ratna Sarumpaet, JPU Hadirkan Empat Saksi

Namun, tiba-tiba Ratna mengklarifikasi kalau berita penganiayaan terhadap dirinya itu bohong. Ratna mengaku mukanya lebam habis menjalani operasi plastik. Akibatnya, hampir seluruh masyarakat tertipu olehnya.

Dalam perkara ini, Ratna didakwa melanggar Pasal 14 Ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana atau dakwaan kedua pasal 28 Ayat (2) jo 45A Ayat (2) UU No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Ratna didakwa telah membuat keonaran melalui berita bohong yang dibuatnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini