nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Empat Saksi yang Dihadirkan JPU dari BPN dan Staf Ratna Sarumpaet

Muhamad Rizky, Jurnalis · Selasa 02 April 2019 09:51 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 02 337 2038092 empat-saksi-yang-dihadirkan-jpu-dari-bpn-dan-staf-ratna-sarumpaet-s9U5jDMBhC.jpg Sidang kasus hoaks Ratna Sarumpaet. (Foto: Muhamad Rizky/Okezone)

JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Daru Tri Darsono yang menangani kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks dengan terdakwa Ratna Sarumpaet mengatakan pihaknya menghadirkan empat saksi dalam sidang lanjutan hari ini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Keempat orang saksi itu adalah Ahmad Rubagi, Sahrudin, dan Makmur yang diketahui merupakan staf Ratna Sarumpaet. Kemudian satu lagi adalah Nanik S Deyang yakni wakil ketua Badan Pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno dan ketua Yayasan Merah Putih.

"Nanik itu posisinya dalam hal ini dia yang pernah mendengar cerita dari terdakwa. Itu saja. Kami melihatnya kapasitasnya sebagai itu. Tidak lebih dari itu. Kami memandang bahwa orang ini sebagai saksi seperti yang sudah diperiksa penyidik yang tertuang dalam BAP," kata Daru di PN Jaksel, Selasa, (2/4/2019).

(Baca juga: Sidang Lanjutan Ratna Sarumpaet, JPU Hadirkan Empat Saksi)

Dalam sidang sebelumnya, JPU telah menghadirkan enam saksi. Tiga di antaranya merupakan polisi yaitu Niko Purba, Mada Dimas, dan Arief Rahman. Sementara tiga orang lagi dari Rumah Sakit Bedah Bina Estetika yaitu dr Desak Asita Kencana, dr Sidik Setiamihardja, dan seorang perawat bernama Aloysius.

Adapun kasus hoaks Ratna Sarumpaet sendiri bermula dari foto lebam wajahnya yang beredar luas di media sosial. Sejumlah tokoh mengatakan Ratna dipukuli orang tidak dikenal di Kota Bandung, Jawa Barat.

(Baca juga: Ratna Sarumpaet Minta Hakim Jangan Salahkan Dokter Operasi Plastiknya)

Tiba-tiba Ratna mengklarifikasi kalau berita penganiayaan terhadap dirinya itu bohong. Ratna mengaku mukanya lebam setelah menjalani operasi plastik. Akibatnya, hampir seluruh masyarakat tertipu olehnya.

Dalam perkara ini Ratna Sarumpaet didakwa melanggar Pasal 14 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana atau dakwaan kedua Pasal 28 Ayat (2) juncto 45A Ayat (2) UU 19/2016 tentang Perubahan atas UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Ratna didakwa telah membuat keonaran melalui berita bohong yang dibuatnya.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini