3 Solusi Atasi Hoaks ala Anak Muda Aceh

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Senin 01 April 2019 22:01 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 01 337 2037982 3-solusi-atasi-hoaks-ala-anak-muda-aceh-LsWXKBsbou.jpg Deputi V KSP Jaleswari dalam diskusi di Aceh (Foto: Kantor Staf Kepresidenan)

JAKARTA - Hoaks terus menyebar, terutama di tahun poltiik seperti sekarang. Pertemuan di berbagai ruang publik dinilai bisa menjadi solusi menangkal hoaks. Ruang perjumpaan menjadi tempat saling bertukar pikiran dan berbagi pengetahuan antar komunitas. Khususnya bagi anak muda.

“Anak muda harus terlibat menangkal hoaks,“ kata Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP) Jaleswari Pramodhawardani, di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Senin (1/4/2019).

Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi bertajuk “Peran Anak Muda Aceh Menangkal Hoaks”. Dia berharap anak muda berperan dan memberi kontribusi pada masalah kebangsaan.

KSP sengaja menggelar acara di Aceh karena menurut survei, Aceh merupakah salah satu daerah dengan tingkat penyebaran hoaks tertinggi. Provinsi di ujung barat Indonesia ini bertengger di tiga besar penyebaran hoaks bersama Jawa Barat dan Banten. Survei ini dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Januari lalu.

(Baca Juga: Viral Video Warga Evakuasi Siswa SD saat Banjir Berlangsung Dramatis)

Diskusi yang berlangsung santai di kedai kopi itu berlangsung seru dan dihadiri puluhan anak muda. Peserta antusias memberi masukan memecahkan masalah hoaks di Aceh.

Rizki, salah satu peserta diskusi dari komunitas Turun Tangan Aceh sepakat untuk memperbanyak ruang publik bagi anak muda. “Bukan hanya di Aceh tetapi di seluruh Indonesia,” katanya.

Di akhir diskusi itu, anak muda sepakat merumuskan tiga solusi memerangi hoaks. Pertama, anak muda sebagai individu maupun komunitas terlibat berkolaborasi dengan pemerintah maupun elemen masyarakat untuk mensosialisasikan bahaya hoaks. Mereka juga bisa memberikan pemahaman atau mengkampanyekan literasi digital.

Kedua, memperbanyak ruang-ruang perjumpaan antar komunitas. Kedai kopi bisa dijadikan ruang untuk saling bertemu, bertukar gagasan, dan melakukan cross-check satu sama lain. Melalui ruang perjuampaan ini, anak muda bisa terlibat aktif memfilter informasi yang berkembang di ruang publik.

Ketiga, memenuhi ruang publik, termasuk ruang publik digital dengan karya. Karya yang dihasilkan anak-anak muda akan menjadi narasi positif yang bisa mengalahkan maraknya berita palsu atau hoaks.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini