Mantan Kasatker SPAM Akui Terima Rp1 Miliar dalam Korupsi Proyek Air Minum

Arie Dwi Satrio, Okezone · Senin 01 April 2019 17:29 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 01 337 2037859 mantan-kasatker-spam-akui-terima-rp1-miliar-dalam-korupsi-proyek-air-minum-2rrkkm14Hp.jpg ilustrasi (Shutterstock)

JAKARTA - Mantan Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Sulawesi Tenggara (Sulteng), Pantja W Tolla mengakui pernah menerima uang sebesar Rp1,050 miliar dari PT Wijaya Kusuma Emindo (WKE). Pantja menganggap uang tersebut bentuk terima kasih.

Hal itu diakui Pantja saat bersaksi dalam sidang perkara suap pengerjaan proyek air minum milik Kementeriaan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk empat terdakwa pemberi suap yakni, Budi Suharto, Lily Sundarsih, Irene Irma, dan Yuliana Enganita Dibyo.

"Ada pemberian uang Rp 1,050 miliar. Kami anggap sebagai ucapan terima kasih," ujar di depan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (1/4/2019).

Pantja mengaku, dirinya telah mengembalikan uang yang diterimanya tersebut ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sewaktu diperiksa sebagai saksi. "Uangnya sudah kami kembalikan ke KPK tanggal 15 Maret 2019 kemarin Pak," kata Pantja.

Pantja menjelaskan, PT WKE sendiri merupakan salah satu perusahaan rekanan penggarap proyek SPAm di Sulteng. PT WKe mendapat proyek pengerjaan di Sulteng pada 2015 dan 2016.

 

Pantja membantah jika uang itu disebut terkait penunjukkan PT WKE sebagai pelaksana proyek. Menurut dia, pihak Satker SPAM tidak pernah meminta uang sebelumnya.

Dalam perkara ini, Budi Suharto dan Lily Sundarsih Wahyudi didakwa bersama-sama dengan Irene Irma serta Yuliana Enganita Dibyo menyuap pejabat Kementeriaan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR). Keempatnya didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Budi merupakan Direktur Utama PT Wijaya Kusuma Emindo (WKE). Sedangkan Lily merupakan Direktur di perusahaan yang sama dengan Budi. Sementara Irene Irma dan Yuliana, adalah Direktur di PT Tashida Sejahtera Perkasa (TSP). PT TSP dan PT WKE merupakan korporasi penggarap proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) milik Kemen PUPR.

Adapun, Keempat pejabat KemenPUPR yang disuap yakni, Anggiat Simaremare selaku Kepala Satuan Kerja SPAM Strategis Lampung; Meina Woro Kustinah selaku PPK SPAM Katulampa; Teuku Moch Naza selaku Kasatker SPAM Darurat; dan Donny Sofyan Arifin selaku PPK SPAM Toba 1.

Uang suap yang diberikan kepada empat pejabat KemenPUPR senilai Rp4,13 miliar, USD 38.000 atau Rp539.980.000 (kurs Rp 14.210), dan SGD 23.000 atau Rp 241.479.290 (kurs Rp 10.499). Sehingga total suap yang diberikan Rp 4,91 miliar.

 

Menurut jaksa, Anggiat diduga telah menerima suap sebesar Rp1,35 miliar dan USD5.000, Meina disebut menerima Rp 1,42 miliar dan SGD 23.000, Nazar disebut menerima Rp 1,21 miliar dan USD 33.000, sementara Donny disebut menerima Rp150 juta.

Uang suap tersebut disinyalir diberikan dengan maksud tujuan agar pejabat KemenPUPR tidak mempersulit pengawasan proyek yang dikerjakan PT WKE dan PT TSP. Sehingga, PT WKE dan PT TSP dapat memperlancar pencairan anggaran kegiatan proyek di lingkungan Satker ‎PSPAM Strategis dan Satker Tanggap Darurat.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini