nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Komisi I DPR Kecam Keras Pembunuhan Massal di Mali

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Kamis 28 Maret 2019 08:24 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 28 337 2035956 komisi-i-dpr-kecam-keras-pembunuhan-massal-di-mali-WaU1nHbVnG.jpg Ilustrasi pasukan pengamanan. (Foto: Reuters)

JAKARTA – Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDIP Dr Evita Nursanty, MSc. mengaku prihatin dan mengecam keras serangan kekerasan yang ditujukan kepada warga sipil, anak-anak, termasuk ibu-ibu yang sedang hamil, di Mali, Afrika Barat. Evita berharap PBB menginvestigasi sangat serius kejadian ini, apalagi sejak Maret 2018 di daerah Mopti ini sudah lebih 600 orang tewas.

"Terlepas apa pun motifnya, kekerasan yang menewaskan lebih 157 orang di antaranya warga sipil, anak-anak dan ibu hamil seperti ini tidak benarkan. Ini manusia lho. Saya sangat prihatin dan mengecam keras. Kita dukung PBB kirim tim investigasi, dan harus mencegah konflik dan korban makin meluas," kata Evita, di Jakarta, Kamis (28/3/2019).

(Baca juga: Pembantai Ratusan Warga di Mali Berdalih untuk Basmi Ekstremisme)

Anggota BKSAP DPR RI yang juga anggota tidak tetap parlemen dunia untuk UN Affairs mewakili Asia Pacific Group setelah sebelumnya menjadi anggota tetap selama dua periode ini sendiri belum bisa mengambil kesimpulan mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi di Mali, khususnya antara Etnis Dogon yang diduga melakukan serangan dan Etnis Fulani yang diduga menjadi korban. Evita hanya menyebut perlu melihatnya secara jernih.

"Ini harus dilihat dengan jernih, misalnya apakah ini betul hanya persoalan Dogon dan Fulani saja? Apakah betul ISIS dan Al Qaeda di balik permusuhan dua etnis itu? Kita bisa melihat tidak hanya di Mali, tapi di negara tetangga mereka yang lain juga kan berkembang kelompok teroris, karena kelompok teroris terus melakukan rekrutmen, dan mereka rupanya memandang padang gurun sebagai basis mereka untuk bisa bertahan. Kita tunggu saja hasil investigasi Tim PBB itu, dan perlu solusi jangka panjang," sambung Evita lagi.

Ilustrasi tindak kekerasan. (Foto: Reuters)

Ada juga kemungkinan kelompok bersenjata yang berkaitan dengan ISIS dan Al Qaeda telah mengeksploitasi rivalitas etnis di Mali, Burkina Faso, dan Nigeria. "PBB tidak boleh membiarkan sebab ini sudah berlangsung lama dan sudah banyak korban berjatuhan."

(Baca juga: Dua Jenderal Mali Dipecat Pasca Serangan Etnis yang Menewaskan 134 Orang)

Namun, Evita mengaku peristiwa semacam ini akan menjadi pelajaran sangat penting bagi semua negara yang memiliki multietnis dan multiagama, termasuk di Indonesia. Menurut dia, ideologi transnasional sangat rentan dan mencoba masuk untuk memecah-belah suatu bangsa. Tak hanya di Mali, tapi di berbagai negara Afrika lain kondisi seperti ini masih terus bergolak.

"Kita diingatkan masalah terorisme dan radikalisme tetap menjadi persoalan yang terus diberikan perhatian, termasuk pasca kekalahan ISIS di Suriah. Kita di Indonesia juga ini tidak boleh terlena. Yang lebih penting lagi, masyarakat kita harus sadar bahaya terpapar terorisme dan radikalisme ini seperti telah dialami oleh eks ISIS di Suriah," ucap Evita Nursanty.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini