Game PUBG Terancam Diharamkan, Ini Kata Pengamat Sosial

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Kamis 28 Maret 2019 06:46 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 28 337 2035923 game-pubg-terancam-diharamkan-ini-kata-pengamat-sosial-5OUu6Ohvgm.jpg Game PUBG (Foto: Ist)

JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) masih mengkaji terkait fatwa mengenai game playerunknown's battlegrounds (PUBG). Namun, hal itu menimbulkan perdebatan di masyarakat lantaran dianggap kurang tepat.

Pengamat sosial Rissalwan Habdy Lubis menilai apa yang dilakukan oleh MUI sangatlah tepat. Lantaran MUI menganggap game itu sebagai bentuk antisipasi terhadap sesuatu yang dianggap membahayakan.

"MUI sudah tepat, meskipun ini agak keluar dari kebiasaan karena games ini tidak terkait dengan ritual Islam di Indonesia. Namun, ini lebih kepada bentuk antisipasi radikalisme Islam di Indonesia," tutur Rissalwan kepada Okezone, Kamis (28/3/2019). 

(Baca Juga: MUI Tampung Pendapat Ahli soal Larangan Main PUBG)

PUBG

Diketahui sebelumnya game itu menjadi polemik seusai kejadian penembakan di Kota Christchurch, Selandia Baru. Dalam manifestonya, salah satu penembak, Brenton Tarrant, mengaku terinspirasi dari video game.

Rissalwan membenarkan jika games sebagai media audio visual memang mempunyai daya infiltarasi yang sangat kuat ke alam bawah sadar si pemain tersebut.

"Jadi, kalau meminjam istilah Carl Gustav Jung, ada yang dinamakan ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran ini terbangun dari intertaksi sosial yangh meresap ke alam bawah sadar," kata dia

"Jadi, misalnya kita sering menonton atau main game tentang kekerasan maka alam bawah sadar kita akan makin toleran dengan kekerasan," tambah dia.

Meski demikian, apabila terkait fatwa MUI yang berencana mengharamkan PUBG dia menilai bisa secara bertahap. Seperti memberikan imbauan agar sebaiknya tidak bermain game tersebut.

"Saya kira memang tidak harus langsung haram ya, bisa levelnya yang sama dengan rokok dulu yaitu Makruh ( status hukum terhadap suatu aktivitas dalam dunia Islam. Aktivitas yang berstatus hukum makruh dilarang namun tidak terdapat konsekuensi bila melakukannya)," ujarnya.

(Ari)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini