nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Curhat Nelayan Bertahan Hidup Mencari Ikan di Laut Jakarta

Muhamad Rizky, Jurnalis · Sabtu 16 Maret 2019 11:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 16 337 2030796 curhat-nelayan-bertahan-hidup-mencari-ikan-di-laut-jakarta-SkLFbpuEiW.jpg Salah seorang nelayan, Kadila. (Foto : Muhamad Rizky/Okezone)

PELABUHAN Sunda Kelapa memiliki sejarah panjang bagi Kota Jakarta. Di pelabuhan ini, selain menjadi objek wisata, juga menjadi tempat kehidupan bagi nelayan yang tinggal di sekitarnya. Dari seberang kapal pinisi, tampak perahu nelayan berjajar rapi. Mereka kebanyakan menggantungkan hidupnya dari mencari ikan, udang, dan hasil laut lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sore itu, salah seorang nelayan, Kadila (38) tampak sedang menjemur ikan asin hasil tangkapannya beberapa hari lalu. Ada dua buah kantong ikan asin yang terbuat dari jaring yang tergantung di atas perahu. Hari itu Kadila tidak melaut mencari ikan maupun udang untuk dijual. Ia hanya merenung sambil membetulkan jaring-jaringnya yang sobek.

Kadila mengeluh, sudah tiga bulan terakhir sulit mendapat udang atau ikan di sekitaran laut Pelabuhan Sunda Kelapa maupun Ancol. "Sekarang sudah susah cari udang atau ikan," kata dia mengawali perbincangan dengan Okezone di atas perahunya, belum lama ini.

Salah seorang nelayan Kadila (Foto : Muhamad Rizky)

Dibanding tahun lalu, menurutnya, kali ini adalah masa yang paling sulit baginya. Boro-boro bisa menjual ke pelelangan, hasil tangkapannya itu bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar perahu yang dikeluarkan setiap hari. Atas dasar itulah dirinya hanya berada di perahu dan tidak melaut.

Infografis Pelabuhan Bersejarah

Dua hari lalu seperti biasa, ia keluar pukul 04.00 WIB untuk mencari udang di sekitaran Pelabuhan Sunda Kelapa, namun tak satupun udang bisa didapat. Alhasil, ia hanya pulang dengan tangan kosong tanpa membawa apapun. Tahun lalu, kata Kadila hasil tangkapannya lebih baik dibandingkan tahun ini.

Hasil tangkapannya itu kemudian ia jual di Ancol sebelum pulang ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Menurutnya, berjualan di Ancol harganya jauh lebih tinggi dibandingkan ke pelelangan atau ia sebut 'Plele'. Plele sendiri merupakan tengkulak udang dan ikan.

"Kalau jual ke plele lebih murah dibanding Ancol misal di Ancol bisa jual 100 di plele 50.000 karena harga yang nentuin plelenya mau enggak segitu," kata Kadila menirukan ucapan plele saat menawar hasil tangkapannya.

Namun demikian, harga itu tergantung dengan kondisi ukuran besar kecilnya udang tersebut. Jauh sebelum kondisi udang sepi seperti saat ini dirinya kerap menjual kepada tengkulak, namun itu sudah tidak terjadi lagi karena hasil tangkapan yang semakin berkurang.

Salah seorang pedagang ikan di tempat pelelangan ikan Muara Angke, Ade berujar, sudah tidak membeli udang dari nelayan di kawasan Angke maupun Pelabuhan Sunda Kelapa. Alasannya sama, karena ketiadaan udang di area itu.

"Kebanyakan pengunjung beli udang di Teluk Jakarta, (itupun) sudah menipis. Nah, ini udang dari Sumatera dari Lampung satu mobil ini, bukan dari nelayan, kalau dari nelayan Teluk Jakarta itu ikan tongkol, ikan tenggiri, ikan kembung sama ikan banjar. Udang juga ada, udang api agak kecil dia itu juga kiriman dari Lampung," tutur Ade.

Tempat pelelangan ikan Muara Angke. (Foto : Muhamad Rizky)

Namun kata dia, bila ada nelayan yang menjual udang, maka ia lebih memilih udang dari nelayan setempat, bukan kiriman dari luar. Sebab, harganya yang lebih murah.

"Kalau harga (udang) murahan dari sini kalau di sini misal udang jerbung dari nelayan sini paling Rp70 ribu per kilo kalau kiriman bisa sampai Rp110 atau paling murahnya Rp90 ribu. Kalau ikan itu murahan dari daerah, kalau dari sini mahal karena harian kalau dari sana kan ikan itu sudah beku kalau di sini kan lebih segar selisihnya bisa Rp10 sampai Rp15 ribu," katanya menjelaskan.

Adapun perubahan harga itu, kata Ade, tergantung daya beli masyarakat karena dirinya harus memperhitungkan apakah udang yang dibeli bisa dijangkau dengan daya jual kepada pengunjung di Angke.

Tempat pelelangan ikan Muara Angke. (Foto : Muhamad Rizky)

"Kalau pengunjung banyak, jangankan harga murah harga mahal juga dibeli jadi tergantung konsumen. Mereka enggak ngeluh karena harga pasarannya segitu. Harga itu tergantung pembeliannya dan juga tergantung penjualannya kepada konsumen misal saya beli dari nelayan Rp70 ribu, nah saya bisa enggak jual Rp80? Jadi enggak dipatok," katanya.

Menurut Ade, selain menjual kepada konsumen yang datang ke Angke, dirinya juga menyuplai ke restoran yang ada di Jakarta maupun supermarket. Hal itu dilakukan untuk mendapat penghasilan lebih.

"Saya banyak kirim ke supplier ke supermarket restoran seafood atau banyak juga yang dibawa ke pasar misal ke BSD pasar modern dan Majestik dibanding pengeteng di sini, karena di sini mengandalkan pesisir atau pengunjung," ucap Ade.

Oleh karenanya di berharap pemerintah lebih memerhatikan mereka, sehingga banyak pengunjung tertarik datang ke Muara Angke. Terlebih saat ini kata dia, para penjual ikan akan direlokasi. Ia lantas khawatir hal itu bisa memengaruhi hasil penjualan ikan.

"Jadi, ini rencana pemerintah Muara Angke khususnya UPT itu pedagang yang di bawah (lokasi jualan sekarang) mau dipindahin ke lapak baru. Jadi tolong informasikan bahwa pedagang yang ada di bawah akan digeser ke kiri pelelangan yang ada. Jadinya kami khawatir dan takut kalau pengunjung yang tidak tahu nanti malah pembelinya sedikit. Maka perlu dilakukan sosialisasi bahwa pedagang yang di bawah grosir supaya disosialisasi ke tempat yang baru sebelah kiri tempat grosir," ujar Ade.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini