nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gelar SWTS, KLHK Targetkan Jumlah Harimau Sumatera Meningkat Dua Kali Lipat

Hantoro, Jurnalis · Rabu 13 Maret 2019 10:38 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 13 337 2029259 gelar-swts-klhk-targetkan-jumlah-harimau-sumatera-meningkat-dua-kali-lipat-TQRD0VjRla.jpg Ilustrasi harimau sumatera. (Foto: Ist)

JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menargetkan peningkatan jumlah harimau sumatera sebanyak dua kali lipat pada 2022, sebuah target yang tertuang dalam National Tiger Recovery Program (NTRP) 2010–2022. Salah satu upaya untuk memantau efektivitas upaya konservasi harimau sumatera dalam rangka mencapai target tersebut, KLHK bersama para mitra kerjanya melakukan pemantauan secara berkala dan sistematik melalui kegiatan Sumatra Wide Tiger Survey (SWTS).

SWTS pertama yang pernah dilaksanakan antara 2007 hingga 2009 mengungkap bahwa 72 persen wilayah survei masih dihuni oleh harimau sumatera. Menurut banyak ahli, kondisi tersebut dikatakan masih baik. SWTS pertama juga telah menjadi rujukan utama dalam penyusunan beberapa dokumen strategis konservasi harimau sumatera, baik dalam skala nasional maupun internasional.

Setelah kurang lebih 10 tahun, KLHK dan mitra kerja sedang melaksanakan SWTS kedua. Sesuai fungsi utamanya, kegiatan SWTS kedua ini dilaksanakan untuk mengevaluasi efektivitas upaya konservasi harimau sumatera yang telah berjalan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

"Kementerian LHK terus berkomitmen dan menjalin kerja sama yang baik dengan para pihak terkait dalam upaya pelestarian harimau sumatera di alam. Program konservasi juga berkembang dalam 10 tahun terakhir. Saya berharap dengan pelaksanaan kegiatan SWTS kedua ini dukungan dan partisipasi aktif para pihak terhadap upaya pelestarian harimau sumatera dan satwa liar lainnya semakin meningkat dan dapat disinergikan dengan kebijakan pembangunan wilayah di daerah," kata Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial Tandya Tjahjana yang membacakan Direktur Jenderal KSDAE KLHK Wiratno dalam peluncuran survei ini di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat, Rabu (13/3/2019).

Survei harimau sumatera. (Foto: KLHK)

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Indra Exploitasia mengatakan bahwa kegiatan SWTS kedua ini penting dilaksanakan mengingat semakin tingginya ancaman terhadap kelestarian harimau sumatera di alam.

"Selain informasi terkait wilayah sebaran harimau sumatera, output yang diharapkan dari kegiatan STWS kedua yaitu terkait data kondisi populasi dan sebaran satwa mangsa, penyakit, dan genetik di seluruh kantong habitat harimau sumatera, sehingga dapat memetakan kesenjangan aktivitas konservasi yang dilakukan," ujar dia.

Selanjutnya seluruh data, informasi, dan kajian hasil kegiatan SWTS nantinya terpusat di database Direktorat Jenderal KSDAE dan selanjutnya menjadi acuan arahan kebijakan konservasi, tidak hanya harimau sumatera akan tetapi juga satwa badak, orangutan, gajah, dan satwa liar lainnya di Pulau Sumatera.

Hariyo T Wibisono, koordinator pelaksana SWTS, mengatakan, "SWTS 2018–2019 adalah kegiatan survei satwa liar terbesar di dunia, baik dalam hal kemitraan, sumber daya manusia yang terlibat, maupun luasan wilayah. Sebanyak 74 tim survei (354 anggota tim) dari 30 lembaga diturunkan untuk melaksanakan survei di 23 wilayah sebaran harimau seluas 12,9 juta hektare, yang 6,4 juta hektare di antaranya adalah habitat yang disurvei pada SWTS pertama."

Tercatat 15 unit pelaksana teknis (UPT) KLHK, lebih dari 10 KPH, 21 LSM nasional dan internasional, 2 universitas, 2 perusahaan, dan 13 lembaga donor telah bergabung mendukung kegiatan SWTS.

Survei harimau sumatera. (Foto: KLHK)

Profesor Dr Gono Semiadi dari LIPI menerangkan bahwa ada beberapa hal yang ingin dihasilkan dari SWTS kedua ini.

"Kami mengharapkan dapat menemukan proporsi area yang menjadi wilayah hidup harimau, informasi mengenai keragaman genetika populasi di masing-masing kantong habitat, meningkatkan kapasitas teknis nasional, serta beberapa dokumen strategi konservasi harimau seperti yang dihasilkan oleh SWTS pertama."

Survei ini tidak hanya melibatkan pemerintah, namun juga seluruh pemangku kepentingan dalam upaya penyelamatan harimau.

"Survei pada 2007–2009 adalah survei harimau pertama terbesar di dunia. Dengan kolaborasi di masa lalu yang berhasil. Kami yakin bahwa saat ini kami bisa mengulang kembali kesuksesan lewat kerja sama yang baik lintas organisasi. Keterlibatan multipihak ini merupakan langkah maju dalam membangun desain konservasi yang komprehensif di level pemerintah pusat maupun pemerintah daerah," ujar Ketua Forum Harimau Kita (FHK) Munawar Kholis.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini