nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kualitas Udara Jakarta Dianggap Terburuk di Asia Tenggara, Ini Faktanya

Fahreza Rizky, Jurnalis · Selasa 12 Maret 2019 20:50 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 12 337 2029105 kualitas-udara-jakarta-dianggap-terburuk-di-asia-tenggara-ini-faktanya-4ySmKQbzdf.jpg Ilustrasi Cuaca Jakarta (Foto: Ist)

JAKARTA – Laporan Greenpeace menyatakan kualitas udara di Jakarta dianggap sebagai yang terburuk se-Asia Tenggara. Hal tersebut dibantah oleh Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah.

Dia menegaskan, kualita udara di Ibu Kota Indonesia tergolong masih baik dibandingkan kota-kota lain di dunia yang saat ini disergap polusi udara.

(Baca Juga: Kualitas Udara di Indonesia Membaik Meski Masih Ada Karhutla di Sejumlah Wilayah) 

“Kami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,” kata Karliansyah dalam keterangannya, Selasa (12/3/2019).

 

Karliansyah menunjukkan sejumlah data untuk meng-counter Greenpeace berdasarkan laporan dari World Air Quality Report yang merilis data kualitas udara Jakarta yang disebutnya terburuk se-Asia Tenggara. Disebutkan, konsentrasi PM 2,5 tahun 2018 tingkat polusinya mencapai 45,3 g/m3. Artinya konsentrasi PM 2,5 di Jakarta sampai empat kali lipat dari batas aman tahunan menurut standar WHO yakni 10 g/m3.

Dia menyatakan, apa yang diungkapkan Greenpeace tida benar dan kualias udara Jakarta masih cukup baik. "Memang kami merekam pada 2018, ada hari yang tidak baik. Dari 365 hari, ada 196 hari kualitas udara buruk dan 34 hari kualitas udara baik. Sisanya kualitas udara sedang. Ada tapi kalau dikatakan terburuk, terjelek di Asia Tenggara tidak,” papar Karliansyah.

“Begitu juga kualitas udara rata-rata harian di Jakarta masih baik, tidak seperti yang dipaparkan Greenpeace," sambungnya.

Sambil memperlihatkan data, Karliansyah menjelaskan, dari data harian Jakarta itu 57mikrogram, kalau WHO itu 25 mikogram. Karena itu, dia mempertanyakan alat ukur yang dipakai oleh Greenpeace. Pasalnya, berdasarkan alat yang dipakai untuk pemantauan kondisi udara dengan PM 2,5 tidak seburuk itu.

(Baca Juga: Menetapkan Status Siaga Karhutla, Kualitas Udara di Riau Dianggap Masih Sangat Baik) 

"Saya dan teman-teman di sini bertanya Greenpeace pakai data apa, metode dan instrumen apa, karena Kami yakin beliau-beliau pernah ke sini dan kami ajak ke lantai tiga di AQMS Center atau jaringan pemantau kualitas udara," urai dia.

Saat disinggung mengapa Greenpeace merilis data tersebut, Karliansyah hanya tersenyum. “Kalau soal itu, saya enggak tahu. Yang jelas, kami punya alat pemantau udara,” ucap karliansyah.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini