nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sosiolog UI: Aksi Robertus Robet Bentuk Kekhawatiran Kembalinya Dwifungsi ABRI

Andina Meryani, Arief Sinaga, Jurnalis · Kamis 07 Maret 2019 22:55 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 07 337 2027172 sosiolog-ui-aksi-robertus-robet-bentuk-kekhawatiran-kembalinya-dwifungsi-abri-clduq6xeUM.jpg Dosen Sosiologi UNJ, Robertus Robet usai diperiksa polisi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Kastorius Sinaga berpendapat sikap yang ditunjukkan oleh dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Robertus Robet saat berorasi berujung mempelesetkan lirik mars ABRI beberapa waktu lalu sesungguhnya tidak bermaksud untuk menghina institusi TNI.

Menurutnya, Robet justru ingin mencegah kembalinya dwifungsi ABRI ke dalam kehidupan bernegara seiring dengan kontroversi pernyataan Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan baru-baru ini tentang polemik pengisian perwira TNI aktif di jabatan sipil yang strategis.

Namun sebaliknya, Robet justru ingin mencegah kembalinya dwifungsi ABRI ke dalam kehidupan bernegara seiring dengan kontroversi pernyataan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan tentang polemik pengisikan jabatn sipil di Kementerian/Lembaga oleh perwirra TNI aktif.

"Dapat kita pahami bahwa kekhawatiran masyarakat sipil, yang sepertinya direpresentasikan oleh Robertus Robet, akan kembalinya dwifungsi ABRI didasarkan pada komitmen yang tinggi dari kalangan ini untuk tetap mengawal proses demokratisasi yang memang mensyaratkan netralitas dan profesionalitas TNI sebagaimana juga diatur dalam ketentuan UU bidang TNI dan UU Pertahanan," kata Kastorius dalam siaran persnya, Kamis (7/3/2019).

Meski begitu kata dia, pelesetan lirik Mars TNI yang dinyanikan Robet dalam orasi itu diakui Kastorius merupakan upaya kurang antisipatif dari pria berkacamata itu di tengah situasi politik yang memanas menjelang Pemilu 2019.

"RR kurang antisipatif dan tidak waspada bila penggalan pelesetan mars yang dia nyanyikan di acara Kamisan di depan istana tersebut akan dapat memicu masalah bagi dirinya dan masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, sudah tepat jika penyidik Polri dengan segera menjemput dan memanggil Robet untuk dimintai keterangan. Tindakan proaktif kepolisian ini bertujuan sebagai upaya preventif agar insiden tersebut tidak memunculkan ekses negatif terhadap situasi kamtibmas yang memang harus dijaga saat ini dan ke depan.

Robertus Robert Lecehkan Mars ABRI

"Robertus Robet telah meminta maaf secara terbuka khususnya ke pihak institusi TNI dan ke masyarakat umum. Dalam konteks ini, Kapuspen TNI juga sudah memberi keterangan resmi di media massa dan mengatakan dengan arif bahwa insiden tersebut tidak berdampak kepada penistaan institusi TNI saat ini," ucap Kastorius.

Ia lantas mengajak semua pihak untuk menempatkan kasus ini secara arif, berimbang disertai upaya cooling down dengan melihat berbagai aspek termasuk menjaga agar kelompok masyarakat sipil (civil society) tetap bersemangat, tanpa dicekam rasa takut berlebihan untuk mengawal proses demokratisasi dan kebebasan berpendapat di depan umum. Tentu rambu-rambu hukum kata dia, perlu diperhatikan sebagai acuan di dalam upaya memajukan demokrasi di negara ini.

Kastorius juga menyarankan kepada penyidik Polri, atas dasar penyelidikan yang telah dilakukan, untuk segera melakukan klarifikasi secara komprehensif atas insiden ini termasuk tidak adanya rencana/niat jahat (mens rea) dari Robertus Robet untuk menistakan institusi TNI yang sekarang ini.

"Saya berharap agar pihak kepolisian tidak memilih pendekatan represif dalam bentuk penahanan atas Robertus Robet dan lebih mengutamakan pendekatan ADR (alternative dispute resolution) berupa upaya mediasi penyelesaian masalah secara damai termasuk dengan melibatkan stakeholder TNI yang dipandang dirugikan dalam insiden ini," tuturnya.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini