Share

Menarik Pembaca, Media Tak Bisa Andalkan Iklan yang Kini Dikuasai Platform Besar

Muhamad Rizky, Okezone · Jum'at 01 Maret 2019 15:40 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 01 337 2024504 media-tak-bisa-andalkan-iklan-yang-kini-dikuasai-platform-besar-8yyDtfMpge.jpg Diskusi AMSI

JAKARTA - Industri media harus dapat menyelasaikan tantangan besar dari platform global yang saat ini berkuasa. Meski sejumlah media sudah menyesuaikan dengan era teknologi, hal itu masih belum berjalan maksimal, ditambah lagi beberapa dari mereka terlilit masalah finansial.

"Apa yang sudah dirintis oleh media mainstream yang bermain di digital juga mereka menghadapi suatu krisis yang cukup parah dalam soal financial, karena mulai muncul platform besar. Pendapatan yang bertranformasi dari print kemudian ke digital itu rata-rata sedikit sekali succesfullnya," ucap Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Nezar Patria dalam diskusi di Rakernas AMSI, di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Jumat (1/3/2019).

Banyaknya hoaks, miss informasi, dan dissinformasi yang beredar sangat gencar di berbagai platform besar dinikmati oleh masyarakat harus menjadi perhatian penting bagi pelaku jurnalistik yang mengedepankan prinsip good jurnalism.

"Perjuangan untuk good jurnalism bisa eksis didalam perubahan-perubahan yang dibawa oleh platform media digital menjadi tantangan bagi kita semua," kata dia.

Salah satu media asal Inggris Reuters, kata Nezar, memiliki terobosan untuk media mainstream agar bertahan dari gempuran platform-platform besar.

(Baca Juga: Pola Pikir & Budaya Kerja Jadi Tantangan di Industri Media)

Pertama, hampir 200 pemain media digital dari beberapa negara yang diwawancara untuk survei ini, menyebutkan bahwa sudah saatnya untuk memberlakukan membership dan subscription.

"Karena kita tidak bisa lagi mengandalkan dengan iklan-iklan entah itu banner dan lainnya yang itu semua diborong oleh platform itu tadi," paparnya.

Kedua, sekira 23 persen dari para editor itu setuju untuk menggugat yang namanya platform raksasa ini baik google maupun facebook melakukan subsidi terhadap good content di internet.

"Kalau tidak, maka bisa kita bayangkan yang terjadi di google maupun di facebook semua banyak posting-posting yang lebih banyak ke arah fakenews," ujarnya.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini