Eni Saragih Jalani Sidang Putusan Kasus Suap PLTU Riau-1

Arie Dwi Satrio, Okezone · Jum'at 01 Maret 2019 09:22 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 01 337 2024332 eni-saragih-jalani-sidang-putusan-kasus-suap-pltu-riau-1-BaC1b5e7Bl.jpg Eni Maulani Saragih. (Foto: Okezone)

JAKARTA – Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta mengagendakan sidang putusan perkara dugaan suap kesepakatan kontrak kerja sama proyek pembangunan PLTU Riau-1 yang menyeret wakil ketua nonaktif Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih.

Eni pada hari ini akan menghadapi sidang terakhirnya terkait suap proyek pembangunan PLTU Riau-1. Hakim bakal menentukan vonis terhadap Eni Saragih.‎ Rencananya, sidang putusan terhadap Eni Saragih digelar pada pukul 13.00 WIB.

"Iya hari ini sidang putusan. Siang (sidangnya)," kata kuasa hukum Eni Saragih Rudi Alfonso saat dikonfirmasi Okezone, Jumat (1/3/2019).

(Baca juga: Eni Saragih Dituntut 8 Tahun Penjara‎ Terkait Suap PLTU Riau-1)

Sebelumnya, Eni Maulani Saragih telah dituntut delapan tahun penjara oleh jaksa penuntut umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jaksa juga menuntut Eni membayar denda sebesar Rp300 juta subsider empat bulan kurungan.

Jaksa meyakini Eni Saragih bersalah karena menerima uang suap sebesar Rp4,75 miliar dari pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johannes Budisutrisno Kotjo, terkait kesepakatan kontrak kerja sama proyek PLTU Riau-1.‎ Selain itu, Eni juga diyakini menerima gratifikasi dari sejumlah pengusaha.

Eni Maulani Saragih. (Foto: Arie Dwi Satrio/Okezone)

Selain dituntut delapan tahun penjara, Eni diminta membayar uang pengganti sebesar Rp10,3 miliar dan SGD40 ribu. Jaksa juga menolak JC Eni dan menuntut agar hak politik Eni dicabut selama lima tahun usai menjalani pidana pokok.

Adapun hal-hal yang memberatkan dalam tuntutan jaksa yakni karena perbuatan ‎Eni selaku anggota DPR tidak mendukung upaya pemerintah dalam memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Sedangkan yang meringankan, Eni dianggap sopan, belum pernah dihukum, sudah mengembalikan uang sebesar Rp4,5 miliar, kooperatif selama persidangan, dan telah mengakui perbuatannya.

(Baca juga: "Amukan" Idrus Marham Pecah kepada Eni Saragih)

Dalam pertimbangan jaksa, Eni diyakini menerima gratifikasi berupa uang sebesar Rp5,6 miliar dan SGD40 ribu dari beberapa direktur serta pemilik perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas.

Selain gratifikasi, Eni Maulani Saragih juga dipandang telah menerima suap sebesar Rp4.75 miliar secara bertahap dari Johannes Budisutrisno Kotjo. Uang tersebut diduga berkaitan dengan proyek pembangunan mulut tambang PLTU Riau-1.

Uang itu sengaja diberikan Kotjo kepada Eni untuk mendapatkan proyek Independent Power Produce (IPP) PLTU mulut tambang Riau-1 antara PT Pembangkitan Jawa-Bali Investasi (PJBI) dengan Blackgold Natural Resources Limited dan China Huadian Engineering Company Limited (CHEC).

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini