Share

Sumpah Pocong Wiranto Dianggap Keberanian Bongkar Dalang Tragedi 98

Achmad Fardiansyah , Okezone · Kamis 28 Februari 2019 21:00 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 28 337 2024202 sumpah-pocong-wiranto-dianggap-keberanian-bongkar-dalang-tragedi-98-FrXg8bUVLE.jpg Menko Polhukam Wiranto (Foto: Okezone)

JAKARTA - Reaksi Menko Polhukam Wiranto yang berani sumpah pocong terkait tuduhan mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zen yang menyebutnya dalang kerusuhan 1998 dinilai sebagai bentuk keberanian. Sebab, keberanian itu bisa membuat terang peristiwa tragedi 1998.

Menurut mantan aktivis 98 Taufan Hunneman, sumpah pocong adalah tradisi dan norma-norma yang berlaku secara adat istiadat di negeri ini. Biasanya, dilakukan untuk memutuskan perkara atau fitnah yang dilontarkan oleh seseorang, karena perkara itu biasanya minim pembuktian.

"Sehingga, dengan sumpah pocong diharapkan akan ada kebenaran hakiki jika tidak, maka akan mendapat laknat Tuhan”, ujar Taufan dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (28/2/2019).

(Baca Juga: Wiranto: Bukan Saya Dalang Kerusuhan 1998!)

Bila muncul perdebatan antara sumpah prajurit dengan sumpah pocong, kata Taufan merupakan dua dimensi yang berbeda. Sebab, sumpah prajurit yang lebih menekankan pada kesetiaan kepada bentuk negara, ideologi dan konstitusi.

Ia justru mencurigai adanya skenario besar yang didalangi satu aktor intelektual dengan tujuan mendapatkan keuntungan politik. Bisa jadi, ada petinggi militer yang ingin mengambil keuntungan politik untuk kepentingan meraih kekuasaan kala itu.

Kivlan Zen

Skenario yang dibangun sengaja memojokkan panglima ABRI, yang ketika itu dipegang Wiranto agar dicopot. Kemudian, secara bertahap, akan berlanjut pada pengambilalihan kekuasaan penuh. “Selalu terjadi upaya pengambilalihan dengan skenario memojokan orang kuat dan menyingkirkan orang kuat di tubuh militer, dalam hal ini panglima ABRI yang saat itu dijabat oleh Jenderal Wiranto," katanya.

(Baca Juga: Dituding Dalang Kerusuhan 98, Wiranto Tantang Prabowo dan Kivlan Zen Sumpah Pocong)

Eks anggota Komite Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera) itu menambahkan, peristiwa 98 adalah rangkaian cerita yang tidak putus dari teror terhadap mahasiswa, penculikan aktivis, hingga peristiwa kerusuhan Mei 98 yang bernuansa rasialis. Menurutnya, yang bisa menjadi dasar pijakan tentang siapa yang bertanggung jawab produk hukumnya adalah Mahmilub, yang telah memberhentikan Letjen Prabowo Subianto.

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Sehat 2025, Lifebuoy dan Halodoc Berkolaborasi Berikan Akses Layanan Kesehatan Gratis

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini