nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BMKG: Masyarakat Baru Sadar Ancaman Besar Gempa Sejak Tsunami Aceh

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Kamis 28 Februari 2019 17:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 28 337 2024081 bmkg-masyarakat-baru-sadar-ancaman-besar-gempa-sejak-tsunami-aceh-UMST1zjrqr.jpg Diskusi Tentang Amankah Jakarta dari Tsunami? di Ancol, Jakarta (foto: Sarah Hutagaol/Okezone)

JAKARTA - Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono menceritakan masalah gempa dan tsunami yang terjadi di Indonesia. Hal itu pun disampaikannya di dalam diskusi ‘Amankah Jakarta dari Tsunami?’

Rahmat Triyono menyebutkan, masyarakat Indonesia baru menyadari terdapat ancaman besar dari gempa dan tsunami sejak kejadian menimpa Aceh pada 26 Desember 2004, padahal gempa dan tsumami sudah melanda Indonesia sejak lama.

(Baca Juga: Beredar Isu Gempa Besar dan Tsunami Akhir Februari, Ini Penjelasan BMKG) 

Selain itu, ia juga mengungkapkan kalau sebelum 1990 teknologi untuk pencatat gempa belum ada di Indonesia. Sehingga, pada saat tersebut pihak BMKG baru mengetahui di mana sumber atau titik gempa satu atau dua hari setelah kejadian gempa atau tsunami terjadi.

“Masyarakat kita bahwa menyadari ada ancaman besar sejak Aceh. Karena sebelumnya pada saat kejadian tsunami Aceh, kita belum memiliki sistem teknologi pencatat gempa,” ujar Rahmat Triyono di kawasan Ancol, Jakarta Utara, Kamis (28/2/2019).

“Jadi bagaimana kondisi sebelum 1990 kita itu BMKG bisa sehari atau dua hari untuk mengetahui sumber gempa itu di mana, apalagi menyebabkan tsunami atau tidak? Sama sekali tidak mampu. Jadi memang sebelum 1990 kita baru mengetahui besok atau lusa baru tahu sumber gempanya,” papar Rahmat.

(Baca Juga: BNPB: Gempa Tak Bisa Diprediksi, Tapi Lokasinya Dapat Diperkirakan) 

Pada saat kejadian gempa melanda Aceh, barulah Indonesia memiliki sensor pelacak terjadinya gempa. Namun, pada saat itu jumlahnya masih sedikit, yakni 20 sensor. Jumlah itu sangat berbanding jauh dengan Jepang yang pada ketika itu sudah memiliki ribuan sensor pelacak terjadinya gempa.

“Waktu gempa Aceh, kita Hanya 20 sensor untuk mengawal seluruh Indonesia. Jepang yang wilayahnya hanya seluas Sumatera itu ribuan. Realitanya saat tsunami Aceh melanda 2 jam kemudian kami baru mampu mengetahui di mana sumber gempanya,” tuturnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini