Jokowi: 9 Juta Orang Percaya Hoaks Larangan Azan

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Rabu 27 Februari 2019 15:46 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 27 337 2023539 jokowi-9-juta-orang-percaya-hoaks-larangan-azan-MMjaKQK0wr.jpg Presiden Jokowi

BANJAR - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan bahwa terdapat sembilan juta orang percaya hoaks soal pemerintah yang akan melarang azan dan memperbolehkan pernikahan sesama jenis.

Jokowi yang juga calon presiden (capres) itu menerangkan telah berkominukasi dengan cawapres KH Ma'ruf Amin untuk mencegah bagaimana agar hoaks itu tidak memapar ke masyarakat lainnya.

"Misalnya pemerintah akan larang azan. Logikanya masuk atau enggak masuk? Enggak masuk. Tapi survei kami 9 juta lebih masyarakat percaya," ujar Jokowi saat membuka Musyawarah Nasional Alim Ulama sekaligus Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Al-Azhar Citangkolo, Banjar, Jawa Barat, Rabu (27/2/2019).

Kepala Negara memastikan angka 9 juta orang percaya hoaks pemerintah akan melarang adzan dan melegalkan pernikahan sejenis bisa dipertanggungjawabkan berdasarkan hasil survei ilimiah.

"Saya bisik-bisik kepada Prof Ma'ruf Amin bagaimana mencegah ini," ucap Jokowi.

Emak-emak kampanye hitam Jokowi

(Baca Juga: Mahfud MD: 3 Emak-Emak Kampanye Hitam ke Jokowi Langgar UU ITE)

Sebelumnya, hoaks pelarangan azan dan pemerintah akan melegalkan pernikahan sejenis tersebut sempat viral karena ulah tiga ibu-ibu yang melakukan kampanye hitam untuk menyerang Jokowi-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.

Jokowi menegaskan bahwa pemerintah tidak akan melakukan pelarangan azan, apalagi melegalkan pernikahan sejenis di tanah air.

"Kalau hal-hal seperti ini tidak direspons, masyarakat akan termakan. Kalau yang percaya 20-30 (orang) tidak apa, tapi kalau jutaan harus direspon," kata Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu pun meminta agar warga Nahdliyin tidak percaya dengan informasi hoaks yang menyesatkan tersebut. Menurut dia, setiap kampanye yang dilakukan dari satu pintu ke pintu lainnya seharusnya mengajak untuk melakukan kebaikan saja.

"Kalau yang disampaikan ajakan kebaikan silakan enggak apa-apa. Tapi kalau yang disampaikan adalah hal-hal yang meresahkan dan mengkwahitkan masyarakat ini yang harus dicegah dan direspon. Kita harus berani respons," ujarnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini