Kuasa Hukum Irwandi Yusuf Keberatan dengan Saksi yang Dihadirkan Jaksa KPK

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Senin 25 Februari 2019 15:41 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 25 337 2022547 kuasa-hukum-irwandi-yusuf-keberatan-dengan-saksi-yang-dihadirkan-jaksa-kpk-l6J0QGbtJV.JPG

JAKARTA - Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) kembali menggelar sidang terhadap Gubernur Aceh Non-aktif Irwandi Yusuf, dalam kasus suap penggunaan Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) tahun anggaran 2018, dengan beragendakan pemeriksaan saksi dari Jaksa pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sebelum sidang dimulai, Tim kuasa hukum Irwandi Yusuf merasa keberatan soal saksi yang dihadirkan oleh jaksa pada KPK dalam persidangan. Mereka menilai, saksi yang dihadirkan jaksa memakai sprindik nomor 96 terkait kasus suap Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA).

"Dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan) ini tercatat sprindiknya nomor 96 tanggal 4 Juli 2018, untuk dakwaan alternatif kasus DOKA. Padahal ketika diajukan dalam perkara ini, dalam dakwaan kumulatif sprindik tercatat dalam prinsipnya yaitu sprindik nomor 123, tanggal 26 September 2018. Kalau diajukan dalam kapasitas sprindik yang demikian nomor 96, kami sangat berkeberatan," ujar tim kuasa hukum Irwandi, Santrawan di ruang sidang Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Senin (25/2/2019).

 sd

Santrawan menjelaskan, alasan pihaknya keberatan dikarenakan sejumlah saksi yang dihadirkan jaksa KPK seperti Direktur Utama PT Tuah Sejati, Muhammad Taufik Reza, Staf PT Nindya Karya, Sabir Said dan Mantan Deputi Teknik Badan Pengusahaan Kawasan Sabang, Ramadhani Ismy diduga memakai sprindik nomor 96.

"Karena prinsipnya saksi ini untuk kasus DOKA berbeda untuk kasus Sabang. Jadi kami sangat berkeberatan saksi diajukan dalam kapasitas menggunakan sprindik nomor 96," jelasnya.

Merespon hal itu, Jaksa dari KPK menyatakan bilamana saksi yang dihadirkan oleh pihaknya menggunakan sprindik bernomor 123.

"Iya seluruhnya sama," papar jaksa Ali Fikri.

Diketahui sebelumnya, Irwandi Yusuf didakwa bersama-sama dengan stafnya, Hendri Yuzal dan Teuku Saiful Bahri menerima suap sebesar Rp1.050.000.000 dari Bupati Bener Meriah Aceh‎, Ahmadi. Uang tersebut diberikan Ahmadi kepada Irwandi dalam tiga kali tahapan.

 sdd

Menurut Jaksa, uang tersebut sengaja diberikan Ahmadi kepada Irwandi agar mendapatan program kegiatan pembangunan yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) tahun anggaran 2018.

Irwandi juga didakwa‎ menerima gratifikasi sebesar Rp8.717.505.494 oleh tim Jaksa. Gratifikasi senilai Rp8,7 miliar itu diterima Irwandi Yusuf dalam kurun waktu setahun dari 2017 sampai 2018.

Irwandi mulai menerima gratifikasi pada November 2017 sampai ‎Mei 2018 dari rekening atas nama Muklis di tabungan Bank Mandiri. Total uang yang diberikan Muklis kepada Irwandi dalam kurun waktu enam bulan sebesar Rp4.4 miliar.

Kemudian, Irwandi menerima juga uang melalui Fenny Steffy ‎Burase sebesar Rp568 juta sejak Oktober 2017 hingga Januari 2018. Uang sebesar Rp568 juta tersebut diterima Steffy dari Teuku Fadhilatul Amri atas perintah orang kepercayaannya Irwandi, Teuku Saiful Bahri.

(wal)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini