nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Novel Baswedan Khawatir Serangan ke "Pendekar Antikorupsi" Kian Liar

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Sabtu 23 Februari 2019 21:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 23 337 2021982 novel-baswedan-khawatir-serangan-ke-pendekar-antikorupsi-kian-liar-lIcuvscwAd.JPG Novel Baswedan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan kembali mengungkit teror dan kriminalisasi terhadap para penegak hukum. Terutama dirinya sendiri yang kini penanganannya belum tuntas.

Novel khawatir bila tak tuntas, serangan terhadap para "pendekar antikorupsi" akan semakin liar. Dirinya sendiri merupakan korban teror penyiraman air keras yang dilakukan orang tidak dikenal pada 2 tahun silam.

"Saya terus terang belakangan memang khawatir kejadian penyerangan terhadap orang-orang yang memberantas korupsi yang sampai sekarang tidak diungkap cenderung ditutupi ini membuat pelaku semakin berani dan ke depan membuat semakin membahayakan," kata Novel saat menghadiri diskusi Reqnews bertema teror dan kriminalisasi terhadap penegak hukum di D'Consulate Resto, Jakarta Pusat, Sabtu (23/2/2019).

(Baca Juga: KPK Terima Hasil Laporan Pemantauan Kasus Novel Baswedan

Novel Baswedan

Novel menjelaskan teror yang terjadi dan menimpa aparat penegak hukum khususnya dalam pemberantasan korupsi merupakan catatan buruk di Indonesia. Sebab, hal itu bisa membuat ketakutan para punggawa KPK dalam memberantas korupsi.

"Saya selalu ajak teman-teman tidak lelah meminta adanya penegakan hukum yang benar terhadap setiap serangan-serangan. Dan kita harus membawa ini ke ruang yang terang agar orang yang berjuang melawan korupsi semakin banyak dan bersemangat," ujarnya.

Menurut Novel, serangan terhadap pegawai KPK jelas berkaitan dengan pemberantasan korupsi di Indonesia. Sebab, korupsi di Indonesia sudah sangat parah dan tentunya berkaitan dengan pembiayaan politik.

"Korupsi di Indonesia ini sudah sedemikian luar biasa terkait mafianya juga banyak. Dan tentunya mafia biasanya terkait uang yang besar sekali dan biasanya digunakan untuk pembiayaan-pembiayaan bahkan pembiayaan politik," katanya.

(Baca Juga: Polri Sebut Tim Gabungan Novel Baswedan Jangan Disamakan dengan TGPF Munir

Sementara itu, Direktur Lokataru (lembaga yang fokus di bidang HAM), Haris Azhar menyatakan, jika sebuah kejahatan dibiarkan, maka pemerintah telah menutup mata dan telinga terhadap adanya sebuag kebiadaban. Kejahatan tersebut, kata Haris, juga akan berdampak pada yang lainnya.

"Jadi, salah satu tanggung jawab moral pimpinan sebuah institusi, di mana ada kekerasan teror dan intimidasi terhadap orang dibawahnya, maka mereka harus bertanggung jawab," kata Haris Azhar di lokasi yang sama.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini