Bacakan Pleidoi, Eni Saragih Menangis Disebut Pelaku Utama Suap PLTU Riau-1

Arie Dwi Satrio, Okezone · Selasa 19 Februari 2019 12:34 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 19 337 2020000 bacakan-pleidoi-eni-saragih-menangis-disebut-pelaku-utama-suap-pltu-riau-1-GGwoa2Qz9Z.jpg Eni Saragih. (Foto: Arie Dwi/Okezone)

JAKARTA - Mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih menangis saat membacakan pleidoi alias nota pembelaan. Dia mengaku bersalah karena menerima suap terkait proyek PLTU Riau-1 dan gratifikasi dari sejumlah pengusaha.

"Saya mengakui bahwa saya bersalah karena ternyata jabatan saya sebagai Anggota DPR RI ternyata melekat di diri saya sehingga tidak dibenarkan menerimanya," ungkap Eni sebagai tersangka saat membacakan pleidoi di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa (19/2/2019).

Meskipun begitu, Eni membantah sebagai pelaku utama dalam perkara ini. Dia merasa hanya menjalankan perintah dari Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto (Setnov) untuk mengawal proyek.

Eni juga mengaku terus ditanya oleh Ketua Fraksi Partai Golkar, ‎Melchias Marcus Mekeng terkait kelangsungan proyek PLTU Riau-1. Eni menegaskan dirinya hanya ‘petugas partai’ yang mengikuti perintah atasannya untuk mengawal proyek ini.

Foto: Arie Dwi/Okezone

"Kiranya perlu saya sampaikan kepada majelis hakim yang mulia, bahwa saya ikut terlibat dalam proyek ini tentu semata-mata karena posisi saya selaku petugas partai," kata dia.

Eni kaget setelah mendengar tuntutan delapan tahun penjara dari Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dirinya dinilai berdalih tidak menerima uang. Eni juga kecewa jaksa menolak pengauannya sebagai justice collaborator (JC).

"Padahal, sebagaimana telah saya sampaikan sejak di meja pemeriksaan di dalam BAP dan terus konsisten di persidangan ini, bahwa diri saya bukan siapa-siapa tanpa perintah petinggi partai," kata dia.

(Baca juga: Sofyan Basir Akui 2 Kali Bertemu dengan Kotjo & Eni Saragih)

Sebelumnya diberitakan, Eni dituntut delapan tahun penjara oleh JPU KPK. Jaksa juga menuntut agar Eni membayar denda Rp300 juta subsider empat bulan kurungan.

Jaksa meyakini Eni Saragih bersalah karena menerima uang suap sebesar Rp4,75 miliar dari pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johannes Budisutrisno Kotjo, terkait kesepakatan kontrak kerjasama proyek PLTU Riau-1.‎ Selain itu, Eni juga diyakini telah menerima gratifikasi dari sejumlah pengusaha.

Selain dituntut 8 tahun penjara, Eni juga diminta bayar uang pengganti sebesar Rp10,3 miliar dan SGD40 ribu. Jaksa juga menolak JC Eni dan menuntut agar hak politik Eni dicabut selama lima tahun usai menjalani pidana pokok.

Adapun, hal-hal yang memberatkan dalam tuntutan Jaksa yakni, karena perbuatan ‎Eni selaku anggota DPR tida mendukung upaya pemerintah dalam memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Sedangkan yang meringankan, Eni dianggap sopan, belum pernah dihukum, sudah mengembalikan uang sebesar Rp4,5 miliar, kooperatif selama persidangan, dan telah mengakui perbuatannya.

Dalam pertimbangan Jaksa, Eni diyakini menerima gratifikasi berupa uang sebesar Rp5.600.000.000 dan SGD40.000 dari beberapa direktur dan pemilik perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas (migas).

Selain gratifikasi, Eni Maulani Saragih juga dipandang telah menerima suap sebesar Rp4.750.000.000 secara bertahap dari Johannes Budisutrisno Kotjo. Uang tersebut diduga berkaitan dengan proyek pembangunan mulut tambang PLTU Riau-1.

Uang itu sengaja diberikan Kotjo kepada Eni untuk mendapatkan proyek Independent Power Produce (IPP) PLTU mulut tambang Riau-1 antara PT pembangkitan Jawa-Bali Investasi (PJBI) dengan Blackgold Natural Resources Limited dan China Huadian Engineering Company Limited (CHEC).

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini