nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

23 Ribu Anak Diduga Jadi Korban Eksploitasi Produk Rokok

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Kamis 14 Februari 2019 17:55 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 14 337 2018030 23-ribu-anak-diduga-jadi-korban-eksploitasi-produk-rokok-NVbHsEO8wP.jfif Konferensi pers di KPAI (Sarah/Okezone)

JAKARTA – Sedikitnya 23.683 anak diduga jadi korban eksploitasi sebuah produk rokok ternama sejak 2008. Mereka diduga dimanfaatkan untuk promosi brand rokok melalui kegiatan audisi beasiswa atlet bulutangkis atau badminton.

Yayasan Lentera Anak melaporkan kasus dugaan eksploitasi anak itu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sekaligus meminta pemerintah memerhatikan masalah ini.

“Anak adalah kelompok yang paling rentan terhadap berbagai bentuk eksploitasi dan harusnya dilindungi. Untuk itu kami mengecam dan menolak semua kegiatan yang berpotensial mengeksploitasi anak Indonesia,” kata Ketua Yayasan Lentera Anak, Lisda di Kantor Pusat KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (14/2/2019).

Anak-anak usia 6 hingga 15 tahun yang ikut audisi itu diharuskan mengenakan kaus yang di bagian depannya mencantumkan brand rokok tersebut.

Menurutnya ini merupakan salah satu tindakan eksploitasi ekonomi dan marketing terhadap brand rokok milik perusahaan penyedia beasiswa itu. Anak-anak itu diduga jadi media untuk mempromosikan brand rokok.

“Tulisannya hampir sama dengan yang ada di bungkus rokok font tulisannya sama,” ujarnya.

Dia meminta KPAI menindaklanjuti dugaan eksploitasi anak itu sesuai yang dimandatkan Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014.

Komisioner KPAI Bidang Kesehatan dan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif, Sitti Hikmawatty mengatakan, pihaknya sudah mengirimkan surat peringatan kepada penyelenggara beasiswa tersebut,.

“Kita masih memberikan kesempatan bagi mereka untuk melakukan perubahan," katanya.

KPAI menegaskan hanya memprotes dugaan menjadikan anak sebagai media promosi rokok seperti mewajibkan menggunakan kaus berlogo brand rokok tersebut, bukan pada pemberian beasiswanya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini