nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Anggota DPR Prihatin Warga Gotong Jenazah Sejauh 60 Km karena Tak Sanggup Beli Tiket Pesawat

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Rabu 13 Februari 2019 20:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 13 337 2017577 anggota-dpr-prihatin-warga-gotong-jenazah-sejauh-60-km-karena-tak-sanggup-beli-tiket-pesawat-bv7RWq39ts.JPG Sodik Mudjahid (Okezone)

JAKARTA – Aksi warga memandu jenazah hingga 60 kilometer menuju Desa Tedeboe, Rampi, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, karena tak mampu bayar ongkos pesawat menuai keprihatinan. Kalangan DPR RI mengritik pemerintah soal pembangunan infrastruktur yang tak merata.

Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi Gerindra, Sodik Mudjahid mengaku miris saat menyaksikan vidio warga memandu jenazah Ranti Tanta sejauh 60 kilometer.

Menurutnya jika saja jalan menuju desa itu bagus, maka jenazah itu bisa diangkut dengan ambulans.

Masalahnya gara-gara tiket pesawat mahal dan keluarga almarhum tak mampu membayar, ditambah jalan menuju kampung itu kecil, berlumpur dan sulit diakses mobil, maka warga terpaksa memandu jenazah itu hingga 60 kilometer.

Sodik menilai pembangunan infrastruktur oleh pemerintah tidak atas dasar prioritas. Dia mencontohkan kasus warga Desa Tedeboe yang harus memandu jenazah.

“Bukti bahwa program infrastruktur tidak atas dasar prirotas. Buktinya masih ada daerah yang ketika tiket pesawat mahal tidak ada jalan darat seperti selama ini dibanggakan,” kata Sodik kepada Okezone, Rabu (13/2/2019).

Menurut dia, harusnya pembangunan infrastruktur memperhatikan mana yang prioritas, jangan asal dibuat-buat.

Kemudian pemerintah juga harus memperhatikan harga tiket pesawat untuk daerah-daerah tertentu yang infrastruktur daratnya belum memadai.

(Baca juga: Viral Jenazah Ditandu 60 Km karena Keluarga Tak Mampu Bayar Biaya Pesawat)

Sebelumnya video yang memperlihatkan warga memandu jenazah menuju Tadeboe, sebuah desa terpencil, viral di media sosial. Jenazah Ranti Tanta itu ditandu warga dengan berjalan kaki sejauh 60 kilometer.

Desa itu belum ada jalan yang bisa diakses mobil. Tapi, sebenarnya bisa ditembus dengan pesawat perintis. Masalahnya keluarga almarhum tak memiliku uang yang cukup untuk membayar tiket yang harganya sangat mahal.

Maka, warga pun nekat memandu jenazah itu dengan berjalan kaki melewati jalan berlumpur dan hutan belantara. (sal)

 

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini