nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

2 Kasus Tukar Pasangan 'Bercinta', Salah Satunya Melibatkan Wanita Hamil 8 Bulan

Putri Rahmadanti, Jurnalis · Rabu 13 Februari 2019 19:29 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 13 337 2017534 2-kasus-tukar-pasangan-bercinta-salah-satunya-melibatkan-wanita-hamil-8-bulan-cqdU7txQZ9.jpg Foto Ilustrasi shutterstock

JAKARTA - Tindakan bertukar pasangan atau swinging seks yang banyak dilakukan dengan alasan untuk meminimalisir rasa bosan dalam hubungan, terkadang membuat suatu hubungan menjadi rusak.

Menurut Ahli Holistic Health and Family Solutions, Kelly Benamati, dalam lansiran dari Huff Post pada Rabu 10 Oktober 2018, setiap pasangan yang berniat melakukan hal tersebut harus berhati-hati dan sadar akan risiko-risiko yang mungkin terjadi.

Berikut dua kasus terkait tukar pasangan hingga diringkus kepolisian yang berhasil dirangkum Okezone, Rabu (13/2/2019).

1. Tiga Pasutri di Kabupaten Malang pada April 2018

Komunitas pasangan suami istri (pasutri) tukar pasangan untuk berhubungan intim berhasil dibongkar anggota Subdit Renakta Ditreskrimum Polda Jatim. Dalam kasus tersebut penyidik menetapkan status tersangka terhadap tiga pasutri saat berhubungan intim di sebuah hotel di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada 14 April 2018.

Tiga pasutri tersebut meliputi, RL (49), yang merupakan istri dari THD (53) warga Keputih, Surabaya. Disusul WH (51) dan istrinya AG (30) warga Lawang, Malang, dan terakhir SS (47) beserta istrinya DS (29) warga Lawang, Malang. Sebelumnya penyidik hanya menetapkan tersangka pada THD dalam kasus tersebut. Pasalnya, THD berperan sebagai inisiator pasutri tukar pasangan dan membuat grup sparling di media sosial.

Polisi menyebutkan bahwa motif mereka bertukar pasangan untuk berhubungan intim bukan faktor ekonomi atau ada ritual khusus, tetapi hanya sekadar fantasi seks. Komunitas ini sudah melakukan aktivitas seks menyimpang sejak 2013 dan memiliki anggota sebanyak 48 pasangan dan berasal dari Jatim dan luar Jatim.

 sd

Kasubdit Renakta Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Yudhistira Midyahwan mengungkap, para anggota kerap bertukar pasangan dengan cara selalu berpindah-pindah. Salah satunya di villa yang ada di Tretes, Pasuruan. Para anggota terangsang ketika melihat istri sahnya disetubuhi orang lain. Rata-rata mereka yang menjadi anggota grup Sparkling berusia antara 29 hingga 60 tahun.

Kini para tersangka mendekam di balik jeruji besi Mapolda Jatim. Mereka dijerat dengan Pasal 296 KUHP tentang Memudahkan Perbuatan Cabul dengan Orang Lain. Adapun ancaman hukumannya 1 tahun 4 bulan penjara.

2. Tiga Pasutri di Surabaya pada Oktober 2018

 

Tiga pasang suami istri (pasutri) melakukan pesta seks atau tepatnya swinging seks di hotel Oval, Jalan Diponegoro, Surabaya. Mereka dipertemukan melalui Twitter dengan salah satu pasutri yang mengetuai aktivitas yang dianggap tidak benar ini.

Perilaku seks menyimpang ini berhasil dibongkar Unit 3 Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim. Di mana ketiga pasangan itu ditemukan dalam keadaan telanjang bulat dan melakukan hubungan badan. Kondisi terakhir yang dilihat oleh Kepolisian setempat satu pasangan berada di atas kasur, satu pasangan di lantai, dan satu pasangan lagi berada di dalam kamar mandi.

Ketiga pasutri itu langsung digelandang ke mapolda Jatim untuk diperiksa. Setelah diperiksa, penyidik menetapkan 1 tersangka dalam kasus asusila ini yakni Eko (31) warga Jalan Sumbo Sidodadi, Surabaya. Sementara kelima orang lainnya sebagai saksi.

 sd

Wadir Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Juda Nusa Putra, menjelaskan modus operasi yang dilancarkan tersangka melalui akun Twitter-nya sejak 2015 mencari pasutri yang ingin diajak fantasi bertukar pasangan untuk berhubungan seks. Namun, ia memiliki syarat, yakni perempuan maksimal berusia 22 tahun dan laki-laki berusia 29 tahun serta menunjukan foto hot atau telanjang berdua dengan pasangannya.

Menurut Juda, yang mengenaskan dalam kasus cabul ini tersangka melibatkan istrinya yang sedang hamil 8 bulan untuk bertukar pasangan. Penyidik menyita sejumlah barang bukti (BB) dalan kasus ini seperti uang tunai Rp 750 ribu, enam buku nikah asli, celana dalam, BH dan kondom serta HP.

"Penyidik menetapkan Eko sebagai tersangka karena yang merencanakan dan mengadakan. Tersangka akan dijerat dengan pasal 296 KUHP dan atau pasal 506 KUHP, yang ancaman hukumannya 4 tahun penjara," tandasnya pada Selasa 9 Oktober 2010.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini