nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Ketika Rasulullah Membela Seorang Yahudi

Athallah Muti, Jurnalis · Rabu 13 Februari 2019 16:45 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 13 337 2017448 kisah-ketika-rasulullah-membela-seorang-yahudi-MCoc25o7wV.jpg Ilustrasi (Foto IBtimesindia)

NABI Muhammad SAW adalah suri tauladan yang baik. Ia manusia yang bijak dan adil. Rasulullah berlaku adil kepada semua umat manusia. Bukan hanya sahabat, keluarga, kelompok atau kaum Muslimin saja, tapi juga terhadap non muslim. Rasulullah juga pernah membela seorang Yahudi.

Alkisah, suatu ketika terjadi perselisihan antara seorang Muslim dan seorang Yahudi. Cerita bermula ketika seorang Yahudi sedang menawarkan barang dagangannya kepada seorang Muslim.

Lalu seorang Muslim tersebut ‘membalas’ dengan sesuatu yang dibenci seorang Yahudi itu. Tidak terima, orang Yahudi mengucapkan sumpah serapah. Ia juga mengagungkan Nabi Musa AS di atas semua manusia.

Seorang Muslim tersebut tidak terima. Dia bergegas mendekati orang Yahudi tadi dan langsung menamparnya.

Ia tidak setuju dengan orang Yahudi tersebut yang melebihkan Nabi Musa AS di atas semua manusia. Karena sang Muslim, Nabi Muhammad SAW lah yang lebih unggul.

“Engkau mengatakan, demi Dzat yang telah memilih Musa atas semua manusia, sedangkan ada Nabi Muhammad di antara kita?” kata seorang Muslim tersebut kepada seorang Yahudi itu, seperti dilansir Okezone dari website NU Online, Rabu (13/2/2019).

Seorang Yahudi tersebut kemudian lapor kepada Rasulullah. Ia tidak terima ditampar oleh seorang Muslim tadi.

Merujuk buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011), Rasulullah tak setuju dengan sikap pria Muslim tadi.

Beliau malah membela Yahudi tersebut. Rasulullah ‘memarahi’ seorang Muslim itu dan bertanya kepadanya apa alasan menampar seorang Yahudi itu.

Rasulullah lantas bersabda agar tidak membanding-bandingkan dirinya dengan para nabi Allah sebelumnya. Rasulullah menjelaskan bahwa para nabi memiliki tugas yang sama, yaitu menyeru kepada umat manusia untuk mengesakan Allah (Tauhid).

Rasulullah mengibaratkan dirinya dengan para nabi sebelumnya seperti seorang yang sedang membangun rumah. Para nabi sebelumnya membangun semua sisi dan bagian rumah, mulai dari tembok hingga atap. Memperindah dan membaguskan rumah tersebut.

Namun ada satu bagian yang belum selesai digarap, yaitu satu tempat ubin di suatu sudut.

Kata Rasulullah, dirinya lah ‘ubin’ itu. Beliau ditugaskan untuk menyempurnakan bangunan rumah tersebut. Dengan itu, Rasulullah ditahbiskan dirinya sebagai penutup para nabi.

“Janganlah kalian melebihkanku di antara para nabi (yang lainnya),” tegas Rasulullah.

Rasulullah selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu mengagungkan semua nabi. Tidak melebihkan satu dengan yang lainnya. Juga tidak merendahkan satu dengan yang lainnya.

Kata Rasulullah dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim: Para nabi adalah saudara se-ayah dan ibu-ibu mereka berbeda-beda, sedangkan agama mereka adalah satu.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini