nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

DPR: Kekerasan Marak Imbas Sistem Pendidikan Terlalu Kaku!

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Rabu 13 Februari 2019 07:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 13 337 2017152 dpr-kekerasan-marak-imbas-sistem-pendidikan-terlalu-kaku-qeaWcdfIeF.jpg DPR (Foto: Ist)

JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi PKS, Iskan Qolba Lubis menilai aksi kekerasan yang terjadi di sekolah karena kegagalan sistem pendidikan. Menurutnya, sistem pendidikan yang diterapkan terlalu kaku dan tidak berlandaskan pembangunan karakter.

"Sistem pendidikan terlalu kaku," katanya kepada Okezone, Selasa (12/2/2019).

Menurut Iskan Qolba Lubis, pendidikan di Indonesia dianggap sebagai bentuk "penjajahan" baru. Hal itu dapat disaksikan saat para siswa cara merayakan kelulusan.

"Hasil dari pembentukan karakter (anak didik) dapat dilihat saay tamat SMA apa yang dilakukan? mereka bukan bersyukur, tapi malah corat coret, karena mereka merasa pendidikan itu bukan menyenangkan , tapi mereka merasakan pendidikan itu seperti penjara," ujarnya.

(Baca Juga: Hukum Siswi Push Up karena Menunggak SPP, Kepsek Berdalih Terapkan Disiplin)

Ia menegaskan, untuk mengatasi hal itu, pemerintah harus melakukan evaluasi terhadap sistem pendidikan yang mengedepankan pembentukan karakter. "Perlu dievaluasi sistem pendidikan kita kan yang jauh dari nilai-nilai karakter (agama, budaya dan sosial). Jadi, pendidikan tidak terlalu fokus pada IQ namun non-IQ juga diperhatikan," ungkapnya.

Ilustrasi

Dijelaskan Lubis, dalam pelaksanaan pendidikan pengajar juga harus lebih inovatif. Supaya dapat mengembangkan peserta didik. "Pendidikan kita terlalu banyak teori kurang aplikatif. Pendidikan itu banyak teori. Jadi dia (peserta didik) harus disibukan hal-hal yang positif. Jangan duduk saja, bisa stres lah, kan bisa dibikin simulasi, kayak pelajaran Matematika kan enggak harus duduk di kelas, kan bisa di luar ruangan," katanya.

(Baca Juga: Guru yang Hukum Siswanya Jilati WC Dimutasi Jadi Staf Kecamatan)

Sebagaimana diketahui, kasus kekerasan di dunia pendidikan di Indonesia kian subur. Belakangan peristiwa yang sempat virai memperlihatkan seorang siswa yang menantang seorang guru lantaran tidak terima ditegor merokok di dalam ruangan kelas. Kejadian tersebut terjadi di Gresik, Jawa Timur.

Selanjutnya, seorang petugas kebersihan sekolah dikeroyok siswa di Sulawesi Selatan. Kasus ini berawal dari saat petugas kebersihan sedang melaksanakan tugasnya memungut sampah. Namun, saat mengambil sampah, beberapa siswa malah mencelanya dengan kata-kata kotor, bahkan merendahkan korban.

Korban yang tersinggung menampar siswa yang menyebutnya dengan kata-kata "pegawai anjing, pegawai najis. Namun, korban malah dikeroyok hingga mengalami luka-luka dan pendarahan.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini