PSI: Nasionalisme Itu Tak Sekadar Menyanyikan 'Indonesia Raya' di Bioskop

Kuntadi, Koran SI · Selasa 12 Februari 2019 11:51 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 12 337 2016745 psi-nasionalisme-itu-tak-sekadar-menyanyikan-indonesia-raya-di-bioskop-Wvn6qeC3Ik.jpg Ketum PSI, Grace Natalie. (Foto: Kuntadi/Okezone)

YOGYAKARTA – Ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie melihat nasionalisme tidak cukup hanya dibangun dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya ketika hendak menonton film di bioskop. Namun harus dengan membangun kepercayaan publik di atas politik yang bersih.

"Nasionalisme PSI tidak akan dibangun dengan cara mewajibkan orang menyanyikan lagu Indonesia Raya, sebelum menonton film di bioskop,” kata Grace saat mengisi Festival 11 Yogyakartadi Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta, Senin (11/2/2019) malam.

Bagi PSI, kata Grace, nasionalisme harus didirikan di atas politik yang bersih. PSI yakin persatuan nasional akan bisa dibangun atas dasar kepercayaan. Pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi menjadi modal penting dalam mengembalikan kepercayaan kepada publik. PSI memiliki dua komitmen antikorupsi dan melawan intoleransi.

Grace Natalie.

Grace Natalie. (Foto: Kuntadi/Okezone)

“Tidak cukup persatuan dan ide nasionalisme Indonesia dengan melap-lap warisan lama,” ujarnya.

(Baca juga: Menpora Cabut Edaran Nyanyikan Indonesia Raya di Bioskop)

Menurut Grace, kepercayaan tidak akan pernah tumbuh di atas politik yang korup. Selama anggota DPR masih korup, selama itu pula rakyat akan sulit percaya kepada politik. Bagaimana mungkin orang akan bersatu jika ia merasa dikhianti. Kalau uang pajaknya secara sistematis dicuri, dikorupsi oleh orang yang mengaku sebagai wakilnya.

Mantan presenter televisi ini juga menyoroti banyaknya orang-orang dan parpol yang selama ini berteriak nasionalis. Namun kenyataanya dalam kasus intoleransi mereka hanya diam dan tidak pernah bersuara. Bahkan tidak sedikit yang aktif dan merumuskan regulasi yang mengarah pada diskriminatif di masyarakat.

“PSI tidak ingin menjadi para nasionalis gadungan yang tidak bersuara ketika banyak kasus intoleransi,” terangnya.

Tidak hanya itu, banyak orang yang bersuara nasionalis tetapi tertangkap oleh KPK.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini