Remisi Pembunuh Wartawan Membuat Media Takut Mencari Berita

Neneng Hasanah, Okezone · Jum'at 08 Februari 2019 15:37 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 08 337 2015366 remisi-pembunuh-wartawan-membuat-media-takut-mencari-berita-GzW7ZgOAou.jpg Tolak remisi pembunuh wartawan (Foto: Neneng Hasanah/Okezone)

JAKARTA - Ketua Aliansi Jurnalis Indpenden (AJI) Indonesia Abdul Manan menganggap pemberian remisi terhadap pembunuh wartawan Radar Bali, I Nyoman Susrama dapat memberikan ketakutan di kalangan media saat menjalankan fungsi sebagai kontrol sosial.

"Memberikan remisi kepada pembunuh wartawan dapat memberi iklim yang tidak bagus bagi wartawan, karena orang (wartawan) menjadi takut menjalankan fungsinya terutama fungsi kontrol sosial," ujarnya saat ditemui setelah diskusi publik 'Remisi Pembunuh Jurnalis dalam Perspektif HAM' di Media Center Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (8/2/2019).

 Baca juga: Soal Remisi Pembunuh Wartawan, Komnas HAM: Berkelakuan Baiknya seperti Apa?

Menurutnya, ketika fungsi kontrol sosial tidak berjalan akan membuat wartawan takut untuk mengungkap fakta terkait korupsi dan sebagainya. Alhasil, mereka tidak bisa menjalankan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 40, yakni memberikan informasi kepada publik.

 https://img-z.okeinfo.net/content/2019/02/08/337/2015341/soal-remisi-pembunuh-wartawan-komnas-ham-berkelakuan-baiknya-seperti-apa-BCN9nZaFFS.jpg

Ia juga mengungkapkan, pemberian remisi terhadap terdakwa yang telah melakukan kejahatan luar biasa merupakan suatu kesalahan. Selain itu, dapat memicu tindak kejahatan yang serupa karena timbul pemikiran akan mendapatkan keringanan.

 Baca juga: Jokowi Didesak Cabut Remisi Pembunuh Wartawan, Menkumham: Tak Ada Urusan dengan Presiden

"Memberikan remisi kepada pembunuh wartawan itu sama dengan memberikan keringanan kepada orang yang telah melakukan kejahatan, secara tidak langsung mendorong dan memicu orang untuk melakukan kejahatan yang serupa. Karena mereka akan berpikir akan mendapat keringan nantinya," jelasnya.

Seperti yang diketahui, Susrama merupakan adik kandung mantan Bupati Bangli I Negah Arnawa. Ia telah membunuh wartawan Radar Bali bernama Anak Agung Gede Narendra Prabnagsa pada tahun 2009 silam.

 Baca juga: Tidak Ada Demokrasi yang Maju Tanpa Perlindungan & Kebebasan Pers

Pembunuhan tersebut di latar belakangi atas tidak terimanya Sasrama mengenai pemberitaan dugaan korupsi pembangunan fasilitas di lingkungan Dinas Pendidikan Bangli senilai Rp4 miliar yang diungkap oleh Prabangsa.

Ia pun dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Namun, pada Desember 2018, ia menerima remisi berdasarkan keputusan yang ditandatangani Presiden Joko Widodo. Kebijakan itu menuai polemik, salah satunya soal jaminan kebebasan pers di Indonesia.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini