Kelakar Jokowi di Ponpes Mbah Moen: Ini Kehadiran Saya yang Kesatu Ditambah Satu

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Jum'at 01 Februari 2019 19:00 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 01 337 2012614 kelakar-jokowi-di-ponpes-mbah-moen-ini-kehadiran-saya-yang-kesatu-ditambah-satu-qDTWJKJwQO.jpg Jokowi saat bersilaturahmi di Ponpes Mbah Moen. (Foto: Fakhrizal Fakhri/Okezone)

REMBANG - Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat berkelakar saat silaturahmi ke Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jateng. Dia menyebut, kehadirannya itu yang ‘kesatu’, padahal Kepala Negara telah dua kali bersilaturahmi ke sana.

"Ini kehadiran saya yang kesatu ditambah satu," kelakar Jokowi yang disambut riuh puluhan ribu santri di lokasi, Jumat (1/2/2019).

Jokowi mengingatkan, Indonesia adalah negara yang besar dan memiliki banyak keberagaman dan perbedaan saat berpidato di ponpes pimpinan Kiai Haji Maimun Zubair (Mbah Moen) itu.

Ia pun meminta agar seluruh masyarakat dapat menjaga persatuan dan kerukunan, seperti menjaga ukhuwah islamiyah dan ukhuwah watoniyah yang diajarkan para ulama.

Foto: Fakhrizal/Okezone

"Saya ingin mengingatkan kepada kita karena tantangan kita besar. Penduduk kita sudah 260 juta jiwa. Yang di Pulau Jawa saja 149 juta," kata dia.

(Baca juga: Jokowi Borong Rempeyek dan Brambang Goreng dari Ibu-Ibu Mekaar)

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menilai, untuk memilih pemimpin harus melihat rekam jejak, pengalaman, prestasi, hingga gagasannya bila terpilih untuk menjadi kepala daerah maupun presiden.

Calon pemimpin yang punya program dan ide-ide yang cerdas layak untuk dipilih oleh masyatakat.

"Jadi tidak usah pakai saling finah, ejek, hina, karena itu bukan nilai-nilai Islami, itu bukan nilai ke-Indonesia-an kita," imbuhnya.

Jokowi mengingatkan, bangsa Indonesia memiliki nilai budi pekerti dan adab dalam berpolitik. Untuk itu, ia meminta masyarakat menghindari ujaran kebencian yang kini marak di media sosial.

"Terutama di bulan politik, begitunya selalu saling mencela, banyaknya ujaran kebencian, ujaran kedengkian, ujaran kenyinyiran. Inilah bukan etika berpolitik, itu bukan adab berpolitik yang baik, itu tidak ada nilai yang santun dalam berpolitik," kata Jokowi.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini