LPSK Terima Permohonan Perlindungan Saksi Kasus Meikarta

Antara, · Senin 28 Januari 2019 15:01 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 28 337 2010377 lpsk-terima-permohonan-perlindungan-saksi-kasus-meikarta-IzYXTnBX5X.jpg LPSK (Foto: Ist)

JAKARTA - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menerima permohonan perlindungan saksi terkait kasus suap pengurusan perizinan proyek Meikarta di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

"Sudah ada permohonan perlindungan yang diajukan ke LPSK dan tengah melakukan penelaahan," kata Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu saat dikonfirmasi di Jakarta seperti dikutip dari Antaranews.com, Senin (28/1/2019).

Sebelumnya, LPSK telah melakukan tindakan proaktif berupa "monitoring" atau pemantauan terhadap sidang kasus tersebut di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bandung yang mengagendakan pemeriksaan saksi.

"Inisiatif ini dilakukan mengingat keterangan saksi dalam sidang-sidang sebelumnya sangat penting, terutama dengan dugaan keterlibatan sejumlah pejabat dalam kasus ini," kata Edwin.

(Baca Juga: Aliran Uang Meikarta Turut Mengalir ke Dinas Pemadam Kebakaran Pemkab Bekasi

Bupati Neneng

Pemantauan yang dilakukan tim LPSK di Pengadilan Tipikor Bandung itu, kata dia, diharapkan dapat memberikan gambaran-gambaran penting baik terkait sifat pentingnya keterangan maupun juga potensi ancaman yang mungkin diterima saksi.

Menurutnya, potensi itu sangat mungkin diterima saksi mengingat apa yang mereka ungkap bisa saja terkait dengan orang yang memiliki kekuasaan baik secara politik maupun ekonomi sehingga penting pula diberikan perlindungan kepada saksi.

"Monitoring" ini merupakan upaya responsif LPSK terhadap dinamika kasus ini sekaligus untuk menjaring saksi-saksi yang membutuhkan perlindungan," ucap Edwin.

(Baca Juga: Periksa Mendagri, KPK Telisik Rapat Pembahasan Izin Meikarta di DPR

LPSK juga mendorong saksi yang merasa membutuhkan rasa aman atau merasa terancam untuk segera mengajukan permohonan perlindungan kepada LPSK.

"Hal ini sesuai dengan mekanisme yang diatur oleh UU Perlindungan Saksi dan Korban di mana perlindungan diberikan berdasarkan permohonan. Meski begitu, tim LPSK yang memonitoring sidang ini juga akan proaktif menawarkan kepada saksi untuk mengajukan permohonan perlindungan," ujar dia.

Selain untuk saksi, LPSK juga membuka diri kepada para tersangka atau terdakwa yang mau mengajukan diri sebagai saksi pelaku yang bekerja sama atau yang dikenal sebagai justice collabolator (JC).

(Baca Juga: KPK Usut Aliran Suap Proyek Meikarta ke Anggota DPRD Bekasi

Menurut Edwin, pengajuan itu tentunya harus sesuai dengan persyaratan menjadi seorang JC, yakni bukan pelaku utama, mau mengakui perbuatan, dan mau mengembalikan hasil kejahatan atau harta yang didapatkan dari hasil kejahatan.

"Menjadi JC merupakan jalan untuk mengungkap kasus-kasus korupsi sekaligus jalan untuk bertobat dan mendapatkan penghargaan berupa keringanan hukuman atas pidana yang dilakukan," tuturnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini