nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPK : Pemecatan PNS Koruptor Berjalan Lambat

Arie Dwi Satrio, Okezone · Senin 28 Januari 2019 10:14 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 28 337 2010211 kpk-pemecatan-pns-koruptor-berjalan-lambat-L74XFPBXMg.jpg Gedung KPK. (Foto : Puteranegara Batubara/Okezone)

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima informasi dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) terkait lambannya keputusan dari masing-masing kepala daerah ataupun pimpinan instansi untuk memecat atau memberhentikan pegawai negari sipil (PNS) yang terlibat kasus korupsi.

"Hal ini disebabkan mulai dari keengganan, keraguan atau penyebab lain para PPK (Pejabat Pembina Kepegawaian) dan beredarnya surat dari LKBH Korpri Nasional yang meminta menunda pemberhentian para PNS tersebut," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (28/1/2019).

Menurut Febri, pihaknya mendapat data dari BKN, baru ‎393 PNS koruptor yang dipecat oleh pimpinannya masing-masing per tanggal 14 Januari 2019. Padahal, ada 2.357 PNS yang seharusnya dipecat karena telah terbukti melakukan korupsi.

"Meskipun demikian, di luar 2.357 PNS tersebut terdapat tambahan 498 PNS yang terbukti korupsi diberhentikan, sehingga total PNS yang diberhentikan adalah 891 orang," imbuhnya.

Sebelumnya, Mendagri, Menpan RB, dan BKN telah menyepakati Surat Keputusan Bersama (SKB) terkait pemecatan 2.357 PNS koruptor pada pertengahan September 2018. Berdasarkan SKB tersebut, masing-masing kepala daerah atau pimpinan instansi harus memecat PNS yang berstatus koruptor paling lambat Desember 2018.

Namun, hingga Januari 2019, baru sekira 891 PNS yang telah dipecat. Sementara sisanya masih menikmati gaji dari negara karena statusnya masih PNS aktif dan dianggap dapat merugikan keuangan negara. KPK menyayangkan lambannya pemecatan terhadap PNS koruptor tersebut.

"KPK sangat menyayangkan rendahnya komitmen PPK baik di pusat ataupun daerah untuk mematuhi perundang-undangan yang berlaku tersebut. KPK sedang terus bekoordinasi untuk memastikan ketidakpatuhan atau hambatan dalam pemberhentian ini," terangnya.‎

ilustrasi

Berdasarkan data yang diperoleh KPK, ada 98 PNS yang telah divonis bersalah karena korupsi di tingkat kementerian. Namun, dari 98 PNS koruptor di instansi pusat tersebut, baru 49 orang yang diberhentikan.

Adapun, beberapa kementerian ini tercatat belum memberhentikan sejumlah PNS yang melakukan korupsi, yaitu:

1. Kementerian PUPR: 9 orang;

2. Kemenristek Dikti: 9 orang;

3. Kementerian Kelautan dan Perikanan: 3 orang;

4. Kementerian Pertahanan: 3 orang;

5. Kementerian Pertanian: 3 orang; dan lain-lain

"Sedangkan Kementerian yang terbanyak memberhentikan PNS terbukti korupsi adalah Kementerian Perhubungan (17 orang) dan Kementerian Agama (7 orang)," kata Febri.

(Baca Juga : KPK Ultimatum Kepala Daerah yang Belum Pecat PNS Koruptor)

Sementara itu, sambung Febri, judicial review (JR) yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menunda aturan SKB yang telah disepekati tersebut.

"KPK mengimbau pimpinan instansi serius menegakan aturan terkait dengan pemberhentian tidak dengan hormat terhadap PNS yang korupsi tersebut," ungkap Febri.

"Karena sikap kompromi terhadap pelaku korupsi, selain dapat mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, juga berisiko menambah kerugian keuangan negara karena penghasilan PNS tersebut masih harus dibayarkan negara," pungkasnya.

(Baca Juga : Asyik Ngopi di Jam Kerja, Sejumlah ASN Kena Razia)

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini