3 Pendekatan Lindungi Anak dari Bahaya Konten Negatif Gadget

Ahmad Luthfi, Okezone · Sabtu 26 Januari 2019 13:31 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 25 337 2009567 3-pendekatan-lindungi-anak-dari-bahaya-konten-negatif-gadget-8dVGVsoAVU.JPG Sekumpulan anak sedang asyik bermain gadget (Foto: Fadel Prayoga/Okezone)

GADGET sudah menjadi barang yang begitu mudah dimiliki. Harga yang semakin terjangkau dan layanan internet yang kian murah, menjadikan gadget seperti ponsel digunakan seluruh kalangan, baik tua maupun kawula muda.

Khususnya anak-anak, penggunaan gadget harus dikontrol sehingga anak tidak kebablasan berselancar di dunia maya. Seperti diketahui, konten negatif bertebaran di internet, mulai dari pornografi hingga perjudian.

Tentunya, anak perlu didampingi ketika mengakses gadget mereka. Hal ini dilakukan agar mereka tidak menjadi 'korban' yang diakibatkan efek buruk dari tayangan atau konten negatif tersebut.

Setidaknya ada tiga pendekatan untuk melindungi anak dari bahaya konten negatif. Pengamat keamanan siber, Pratama Persadha menjelaskan, tiga pendekatan itu mulai dari pendekatan hukum hingga edukasi kepada orangtua.

Untuk pendekatan hukum, pemerintah serta DPR membuat Undang-Undang yang mengikat para penyedia platform internet, baik aplikasi maupun web untuk tunduk dan patuh pada aturan. Minimal adalah untuk tidak bertentangan dengan norma adat, budaya dan agama di Tanah Air.

Bila masih melanggar, maka ada pasal dalam UU yang mewajibkan penyedia platform untuk membayar sejumlah denda. Aturan ini diterapkan di Inggris dan Jerman. Akibat hoaks yang meningkat, kedua negara tersebut mengeluarkan aturan yang memaksa penyedia layanan media sosial untuk menghapus konten hoaks, bila melanggar akan terkena denda yang cukup besar.

Ayah Temani Anaknya Bermain Gadget

Pratama yang juga Chairman Communication Information and System Security Research Center (CISSReC) itu mengatakan, daya tawar Indonesia bisa jadi tidak sebesar dua negara tersebut. Namun, ada satu kunci yang bisa memaksa, yaitu pengguna media sosial dan internet yang begitu besar di Tanah Air.

Sekadar informasi, pengguna Facebook di Tanah Air sudah lebih dari 120 juta orang. Sedangkan Instagram lebih dari 60 juta orang. Pemerintah kata dia, bisa membuat kerjasama khusus untuk melakukan filter pada konten berbahaya baik radikal, pornografi dan hoaks.

Sehingga masyarakat bisa ikut serta membantu pelaporan dan mencegah konten negatif di media sosial lebih meluas. Pada akhirnya anak yang juga mengonsumsi media sosial ikut terjaga.

Pendekatan kedua adalah edukasi lewat kurikulum. "Sebenarnya program Whitelist Nusantara cukup bagus, namun belum mampu menutup besarnya lubang bahaya dunia digital," kata Pratama kepada Okezone.

Prinsipnya, berinternet yang sehat harus masuk kurikulum pendidikan di Tanah Air. Pendidikan digital tidak lagi terbatas hanya latihan MS Office maupun Corel, lebih jauh bagaimana anak bisa berinternet yang sehat dan produktif.

Infografis Lipsus Gadget

Kurikulum pendidikan berinternet yang sehat, salah satu outputnya adalah, anak menemukan kegiatan positif yang bisa mereka lakukan di dunia maya secara berulang, tanpa terjadi kecanduan.

Di AS misalnya seorang anak SD membuat kampanye di FB untuk mengambil sampah-sampah di rumah tetangganya yang masih bisa diolah. Selang beberapa waktu, anak tersebut berhasil mengumpulkan uang ribuan dolar AS.

Sedangkan pendekatan ketiga, ialah edukasi kepada orangtua. Edukasi pada orangtua sangat penting karena masalah utama adalah para orangtua tidak tahu apa yang dilakukan anaknya di smartphone mereka.

"Orangtua tidak banyak yang tahu bagaimana mengaktifkan parental mode di smartphone, padahal itu adalah langkah paling mudah dan pertama yang harus dilakukan saat anak diberikan smartphone," tuturnya.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini