nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cegah DBD, DKI Fokus Pemberantasan Nyamuk hingga Mengedukasi Masyarakat

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Jum'at 25 Januari 2019 05:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 25 337 2009150 cegah-dbd-dki-fokus-pemberantasan-nyamuk-hingga-mengedukasi-masyarakat-ANI4xmx4bE.jpg Ilustrasi pengasapan. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Musim hujan yang berlangsung hampir di seluruh wilayah Indonesia ini mengakibatkan banyak orang terserang sejumlah penyakit, salah satunya demam berdarah dengue (DBD). Guna mencegah mewabahnya penyakit tersebut, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti memberikan beberapa cara agar DBD tidak menjangkiti masyarakat.

Pertama, kata dia, hal yang harus dilakukan adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui 3M yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang-barang bekas yang biasanya menjadi tempat pekembangbiakan nyamuk penular DBD.

(Baca juga: Anies: Penderita DBD di DKI Naik Dua Kali Lipat Mencapai 370 Orang)

"Promotif, preventif secara masif melibatkan masyarakat melalui kader jumantik dalam upaya pengendalian vektor penyakit DBD PSN 3M plus," terang Widyastuti kepada Okezone, Kamis 24 Januari 2019.

"Pemberantasan sarang nyamuk, menutup rapat, dan menguras tempat-tempat penampungan air, mendaur ulang barang-barang bekas."

Jentik nyamuk penyebab DBD. (Foto: Ist)

Kedua, lanjut dia, melakukan pengasapan atau fogging untuk memberantas nyamuk dewasa. Ketiga, memberikan penyuluhan atau edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan demam berdarah juga penting untuk dilakukan.

"Pengasapan(fogging) fokus pada kasus positif untuk memberantas nyamuk dewasa. Edukasi kemasyarakat melalui berbagai media," tambahnya.

(Baca juga: Kelembapan Udara Cukup Tinggi, 3 Wilayah di DKI Ini Rawan DBD)

Widyastuti menambahkan, kempat adalah tata laksana DBD dan meningkatkan fasilitas pelayanan kesehatan di rumah sakit yang merupakan salah satu upaya. Kelima, selalu waspada dengan selalu mengecek informasi dari berbagai sumber.

"Tata laksana kasus di RS dan fasyankes lain. Sistem kewaspadaan dini berbasis web (surveilans berbasis data RS dan survilans berbasis komunitas), dan kerja sama dengan BMKG," tutur Widyastuti.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini