Share

Labora Sitorus Menjawab Tudingan Rekening Gendut

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Senin 21 Januari 2019 22:07 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 21 337 2007546 labora-sitorus-menjawab-tudingan-rekening-gendut-aBRxAAwUk7.jpg Labora Sitorus (Foto: Ist)

JAKARTA - Sejak mencuat enam tahun silam, beragam berita miring menyertai perjalanan kasus Labora Sitorus, seorang anggota Polri yang terakhir berpangkat Aiptu. Salah satunya soal kepemilikan rekening gendut yang mencapai Rp1,5 triliun.

Labora yang sekarang mendekam di LP Cipinang, Jakarta Timur berupaya mengklarifikasi berita-berita miring terkait dirinya melalui surat yang ditandatanganinya.

"Banyak pemberitaan yang tidak berimbang dan tanpa ada konfirmasi dari saya atau pun keluarga saya, yang secara langsung mengalami kejadian yang sebenarnya dan terdampak langsung atas kasus yang dituduhkan kepada saya," ungkap Labora dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/1/2019).

(Baca Juga: Disebut Komnas HAM Jadi Korban, Labora Sitorus Ajukan Permohonan Grasi dan Amnesti)

Menurut Labora, pemberitaan tersebut jelas merugikan dan tidak mencerminkan keadilan. Malah yang terjadi adalah pemutarbalikan fakta dan kebohongan kepada masyarakat luas.

Labora menegaskan, sebagai anggota kepolisian di Polres Sorong, dirinya tidak pernah terlintas untuk melakukan tindakan-tindakan yang melawan hukum dan mempermalukan atasan dan institusi Polri.

Labora Sitorus

Memang disela-sela tugasnya, Labora menyempatkan diri membimbing dan membantu keluarganya dalam mengelola bisnis keluarga melalui dua perusahan yang didirikan dan dibeli keluarganya, yaitu PT Rotua dan PT Seno Adhi Wiyata (PT SAW) yang bergerak dibidang pengolahan kayu dan pembelian atau penjualan bahan bakar minyak (BBM).

Dipastikan kedua perusahan tersebut memiliki izin yang lengkap dan dikelola oleh para karyawan dengan melibatkan masyarakat setempat. Ketika berita tentang rekening gendut para jenderal menerpa lingkungan Polri yang kemudian beredar luas, Labora dianggap sebagai salah seorang anggota kepolisian yang memiliki rekening gendut yang berjumlah sampai triliunan rupiah.

"Padahal, saya tidak pernah memiliki uang sampai triliunan rupiah dan ini terbukti saat keterangan saksi dari berbagai pihak, termasuk bank di persidangan," ujar Labora.

Atas dugaan rekening gendut itulah, ada pihak yang melaporkan dirinya ke Polda Papua atas dugaan melakukan ilegal logging dan BBM ilegal. (Baca Juga: Dari Dalam Lapas Cipinang, Labora Sitorus Tanggapi Hasil Eksaminasi Komnas HAM)

Awal mula kejanggalan dan rekayasa, terdapat laporan atas dirinya, Laporan yaitu: Laporan Polisi/57/III/SPKT/2013/Papua dan Laporan Polisi/65/III/SPKT/2013/Papua, dalam laporan 57 bukan dirinya sebagai terlapor sedangkan laporan 65 ada 3 orang terlapor dengan 3 laporan berbeda begitu juga terlapornya serta petugas yang membuat serta menandatangi laporan tersebut. Kemudian muncul lagi 2 laporan yaitu Laporan Polisi107/ III/SPKT/2013/Papua dan Laporan Polisi108/ III/SPKT/2013/Papua yang keduanya tentang TPPU.

Melihat kejanggalan dan rekayasa ini, Labora mendatangi Kompolnas di Jakarta untuk melakukan pelaporan. Namun, yang terjadi malah bukan laporannya ditindaklanjuti Kompolnas, justru Labora ditangkap di depan pintu Kompolnas dan dilanjutkan dengan penahanan di Rutan Bareskrim oleh Ditreskrimsus kemudian dilimpahkan ke Polda Papua.

Tidak hanya penahanan yang dialami Labora, bahkan kayu olahan dan BBM milik kedua perusahan keluarganya serta beberapa kendaraan dan kapal serta uang yang berada di kantor perusahan juga disita.

Kejanggalan dan rekayasa kembali terjadi, dimana dalam putusan PT dan PN mengembalikan semua sitaan karena tidak terkait dirinya, dianulir oleh MA dengan merampas untuk negara.

Setelah putusan MA keluar dan jaksa akan mengeksekusi dirinya, dibuatlah rekayasa dan berita Labora kabur dan bersembunyi. Padahal, selama kejadian dirinya selalu berada di rumah.

"Berita dan video tentang saya melarikan diri dan menolak ditahan serta melakukan perlawanan terhadap eksekusi banyak tersebar, padahal tidak mencerminkan kenyataan sebenarnya," kata Labora.

Selain itu, saat Labora dibawa ke Lapas Sorong untuk ditahan, Kalapas Sorong ternyata menolak untuk menahan Labora karena tidak dilengkapi surat-surat persyaratan untuk penahanan. Labora juga tengah menderita sakit, sehingga akhirnya diputuskan untuk dibantar di rumah sakit. Sampai akhirnya Labora dari Lapas Sorong dipindahkan ke Jakarta dan di tahan di Lapas Cipinang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini