Menteri Jonan: Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pendidikan

Taufik Fajar, Okezone · Senin 21 Januari 2019 16:25 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 21 337 2007358 menteri-jonan-mitigasi-bencana-harus-masuk-kurikulum-pendidikan-BWZhef3L8C.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan menyatakan, pihaknya ingin adanya pendidikan mitigasi bencana atau serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana di setiap sekolah-sekolah.

"Saran dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), mitigasi bencana, kalau perlu masuk kurikulum pendidikan dan ada sosialisasi ke setiap Pemerintah Daerah (Pemda), secara terus menerus agar ada kesadaran" ujarnya di Gedung Kementerian ESDM Jakarta, Senin (21/1/2019).

Dia menjelaskan, bahwa Indonesia merupakan negara yang berada di Ring of Fire atau daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi. Maka itu, dirinya ingin para peneliti, pengamat, dan lain-lain, apabila ada masukan tolong sampaikan.

"Jadi, semua pihak harus introspeksi apa kekurangan masing masing untuk menghadapi bencana alam di Indonesia. Ini tujuannya bukan pintar-pintaran, tapi mengurangi korban jiwa dan harta benda," tuturnya.

 (Baca juga: Jokowi: Manajemen Kebencanaan Harus Terkoordinasi)

s

Dia menuturkan, bencana geologi atau yang mayoritas bencana alam ini, harus ditangani secara sungguh sungguh.

"Objektif nya apa? Bukan kita bisa mencegah bencana geologi itu datang. Karena hampir tidak ada bencana kegeologian yang bisa dicegah. Yang bisa di mitigasi sehingga mengurangi korban jiwa dan material," ungkapnya.

 (Baca juga: Kunjungi Lokasi Longsor Sukabumi, Kepala BNPB Ajak Semua Pihak Kurangi Risiko Bencana)

Dia menambahkan, banyak bencana geologi yang timming-nya tidak bisa diprediksi jauh-jauh hari secara akurat. Bisa diprediksi dari gerakan, output. Maka ada zona rawan bahaya.

"Saya minta, tidak boleh ada ego ke sesama institusi. Pendapatnya secara resmi pemerintah ada sendiri di badan geologi, tapi hasilnya apa masukan kepada instansi lain, harus terbuka," pungkasnya.

 s

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini