CVR Lion Air Ditemukan: Laporan Awal dalam Sebulan, Keluarga Lega

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 15 Januari 2019 09:19 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 15 337 2004569 cvr-lion-air-ditemukan-laporan-awal-dalam-sebulan-keluarga-lega-s82gJpgGtM.jfif CVR Lion Air PK-LQP. (Foto: Reuters)

Ada Dua Kotak Hitam

Di dalam setiap pesawat ada dua peranti kotak hitam: FDR (flight data recorder) atau perekam data penerbangan dan CVR (cockpit voice recorder) atau perekam percakapan pilot. FDR mencatat informasi 88 parameter penerbangan, mulai kompas, arah, ketinggian, hingga kecepatan pesawat di udara, dan sebagainya yang bersifat teknis. Apa yang terjadi selama penerbangan dalam kurun 25 jam terakhir akan direkam oleh alat ini.

Sedangkan CVR yang merekam seluruh pembicaraan yang dalam kokpit. CVR tidak hanya merekam percakapan pilot dan kopilot, namun juga beragam suara yang bisa merupakan petunjuk penting, seperti suara mesin, suara alarm, bahkan suara kursi yang digeser jika awak kabin bergerak.

Perusahaan pembuat kotak hitam asal Amerika Serikat, Honeywell, mengatakan rekaman yang tercatat disetel untuk hanya berdurasi dua jam dari posisi terakhir pesawat.

"Perekam data penerbangan akan memberi tahu kita bagaimana kecelakaan terjadi," kata Greg Marshall, wakil presiden Flight Safety Foundation, organisasi nirlaba di AS yang menyediakan panduan keselamatan udara.

"Sementara perekam suara di kokpit akan memberi informasi mengapa terjadi kecelakaan," jelas Marshall.

Misalnya dalam kasus Germanwings nomor penerbangan 9525 yang jatuh di kawasan Alpen Prancis pada Maret 2015. Perekam penerbangan mengungkap bahwa kru yang mengendalikan pesawat secara sengaja menurunkan ketinggian pesawat dan menambah kecepatan sebelum menabrak pegunungan.

Rekaman suara di kokpit juga menunjukkan pilot menggedor pintu kokpit dan berteriak, "Buka pintunya!" Di latar belakang terdengar para penumpang menjerit.

Dari berbagai data ini, tim penyelidik menyimpulkan bahwa Kopilot Andreas Lubitz mengunci pintu kokpit dan sengaja menabrakkan pesawat.

FDR dan CVR dipasang di bagian pesawat yang biasanya paling tahan menghadapi kecelakaan, yaitu bagian ekor.

Kotak hitam pesawat. (Foto: BBC)

Tidak Berwarna Hitam

Ukurannya kira-kira sama dengan kotak sepatu, memiliki berat sekira 4,5 kilogram dengan harga USD50 ribu atau Rp750 juta per unit, dan tidak berwarna hitam, melainkan oranye.

Biasanya FDR diletakkan di bagian ekor pesawat, dengan pertimbangan ketika kecelakaan, bagian ini mengalami dampak yang relatif lebih kecil dibandingkan lokasi lain, sehingga diharapkan kotak hitam tak mengalami kerusakan parah.

Perekam data penerbangan mendapatkan informasi melalui alat perantara yang biasa disebut unit pengumpul atau flight data acquisition unit. Unit ini menerima semua data dari sensor yang ditempatkan di badan pesawat.

Informasinya kemudian disimpan di keping-keping memori yang memiliki kapasitas simpan sangat besar, hingga beberapa terabita. Perekam suara kokpit memiliki sistem kerja yang sama.

Tetapi, mengapa dua peranti yang berwarna oranye terang itu disebut kotak hitam? Mungkin karena alat ini warnanya menjadi kusam akibat terbakar ketika ditemukan.

Nyaris Tak Mungkin Hancur

Kotak hitam dirancang sedemikian rupa sehingga bisa menyimpan dan menyelamatkan data penting tersebut. Kotak pembungkusnya terbuat dari aluminium, lalu ada lapisan insulasi yang berfungsi melindungi peranti dari suhu tinggi, dan di bagian terluar ada pembungkus dari bahan titanium atau baja.

Sebelum dipasang di jet komersial, kotak hitam berulang kali diuji untuk memastikan benda itu tidak mudah rusak atau hancur. Jarang sekali kotak hitam pesawat hancur atau tak bisa ditemukan. Dalam sejarah penerbangan modern kasus seperti itu hanya terjadi beberapa kali.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini