CVR Lion Air Ditemukan Pertama Kali oleh Serda Satria Margono, Begini Ceritanya

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Senin 14 Januari 2019 12:05 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 14 337 2004092 cvr-lion-air-ditemukan-pertama-kali-oleh-serda-satria-margono-begini-ceritanya-Dja4AjLaRa.jfif CVR Lion Air yang ditemukan TNI AL (Foto Pushidrosal)

JAKARTA – Tim penyelam dari TNI Angkatan Laut menemukan kotak hitam jenis Cockpit Voice Recorder (CVR) milik Pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. CRV itu pertama kali ditemukan oleh Serda Ttg Satria Margono, pagi tadi.

“Pada pukul 08.40 WIB penyelam atas nama Serda Ttg Satria Margono berhasil menemukanya CVR dimaksud,” kata Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal), Laksamana Muda Harjo Susmoro dalam keterangan tertulis diterima Okezone, Senin (14/1/2019).

Pushidrosal digandeng Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menemukan CVR Lion Air pada posisi koordinat 05 48 46,503 S - 107 07 36,728 T. Pencariannya melibatkan kapal perang KRI Spica-934.

Harjo menjelaskan setelah posisi keberadaan CVR diketahui, tim penyelam dari Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Koarmada I sebanyak 18 orang lengkap dengan peralatan Scuba dan tiga orang dari Komando Pasukan Katak (Kopaska), menyelam di lokasi tersebut.

(Foto Pushidrosal)

Adalah Satria Margono orang pertama yang menemukan CVR Lion Air di perairan Karawang.

“Pushidrosal mengerahkan KRI Spica-934 yang diberangkatkan dari Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa 8 Januari 2019,” ujar Harjo.

Keberangkatan kapal survei Hidro-Oseanografi di bawah pembinaan Pushidrosal tersebut dilepas langsung oleh Harjo Susmoro, Ketua KNKT Soerjanto.

Keberangkatan KRI Spica-934 yang memiliki peralatan bawah air dengan teknologi canggih itu untuk terus mencari keberadaan CVR.

Mereka membawa alat yang lengkap seperti Multibeam Echosounder (MBES), Sub Bottom Profiling (SBP), Magnetometer, Side Scan Sonar, ADCP serta peralatan HIPAP yang mampu mendeteksi sinyal dari black box dari Lyon JT 610.

(Foto Pushidrosal)

Selain peralatan tersebut, KRI Spica-934 juga membawa anak buah kapal (ABK) 55 orang, personel KNKT sembilan orang, penyelam TNI AL 18 orang, serta Scientist enam orang

“Dengan segala kekuatan yang ada, KRI Spica yang dikomandani Lekol Laut (P) Hengky Iriawan ini mempunyai waktu mencari CVR Lion Air nomor penerbangan JT-610 tersebut selama 15 hari, mengingat sinyal yang dipancarkan CVR selama 90 hari,” ujarnya.

Saat ini, waktu yang tersisa tinggal 15 hari lagi, sejak pesawat Lion Air jatuh di perairan Karawang 29 Oktober 2018.

Pencarian CVR difokuskan sekitar 50 meter dari lokasi diketemukannya Flight Data Recorder (FDR).

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini