nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perampasan Bermotif "Pelakor" Jadi Modus Baru Tindak Kriminal

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Minggu 13 Januari 2019 19:13 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 13 337 2003884 perampasan-bermotif-pelakor-jadi-modus-baru-tindak-kriminal-5FXFjZ89Yr.jpg ilustrasi

JAKARTA - Memasuki era modern dewasa ini, aksi kriminalitas pun ikut berkembang. Salah satu yang sedang tren adalah tindak pidana pemerasan yang menggunakan modus "Pelakor" atau Perebut Laki Orang.

Psikolog Tika Bisono menekankan, hadirnya orang ketiga terkadang memiliki tujuan kriminal, yakni untuk merampas seluruh harta korbannya. Oleh sebab itu, polisi diminta untuk mewaspadai modus yang sedang tren dikalangan masyarakat itu.

"Ini berbeda sama sekali dengan kehadiran orang ketiga karena hati. Sebagai konsultan, saya bisa dengan mudah menebak, kehadiran orang ketiga yang didasarkan pada hati, sejatinya cermin bahwa kehidupan berumah-tangganya ada masalah," kata Tika saat dikonfirmasi, Jakarta, Minggu (13/1/2019).

Sedangkan kehadiran orang ketiga dengan motif kriminal, kata Tika, solusinya hanya satu yakni laporkan ke polisi. "Itu tidak sulit sama sekali karena ada deliknya,” ujarnya.

Menurut Tika, laki-laki beristri kerap masuk perangkap, dan dijadikan objek pemerasan atas nama orang ketiga. Sejumlah kasus yang melibatkan publik figur dan pejabat juga tengah disorot karena rela cerai dan meninggalkan keluarga serta anaknya, demi hidup bersama dengan wanita baru.

Dalam modus ini, kata Tika, korba pada umumnya adalah pria mapan dari berbagai kalangan profesi. Mengingat, banyak pelaku yang tergoda untuk mendapatkan materi secara singkat.

“Ia bisa pengusaha, pejabat atau profesi mapan lain yang sangat mementingkan reputasi. Jika berhasil masuk perangkap, tipe-tipe pria mapan ini sangat rentan jadi objek pemerasan. Karrna itulah polisi harus masuk dan masyarakat harus tahu,” papar Tika.

Tika berpendapat, tindakan tegas aparat kepolisian terhadap praktik pemerasan dengan modus menjadi orang ketiga, diharapkan bisa menjadi efek jera bagi pelaku, dan early warning bagi para pria mapan.

“Karena itu, banyak orang yang menjadi korban wanita berkedok orang ketiga, tetapi tidak mau men-disclose. Alasan yang mereka kemukakan adalah pertimbangan pendek. Biasanya menghindari aib, atau khawatir mempengaruhi karier. Itu pertimbangan keliru,” ucap Tika.

Di sisi lain, untuk menghindari hal tersebut, Tika menyebut, siapa pun yang terlibat dengan persoalan orang ketiga, harus mengutamakan pertimbangan keselamatan jangka panjang untuk mengakhirinya.

“Rasa malu, aib, bahkan karier menjadi tidak penting jika dibandingkan keselamatan keluarga ke depan,” tutup dia. (aky)

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini