Bisakah Kebun Binatang Indonesia Membuat Pengunjung Lebih Aktif dalam Konservasi?

Agregasi BBC Indonesia, · Minggu 13 Januari 2019 11:03 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 13 337 2003747 bisakah-kebun-binatang-indonesia-membuat-pengunjung-lebih-aktif-dalam-konservasi-i3bP8mPTc4.jpg (Foto: Wolfgang Kaehler/Getty Images)

APAKAH Anda bermimpi berenang dengan penyu, menyentuh harimau, atau mendekati kera? Berinteraksi dengan hewan-hewan yang luar biasa di lokasi-lokasi eksotis menduduki peringkat teratas daftar keinginan banyak orang, tetapi ada bahaya bahwa liburan yang menjadi pengalaman sekali seumur hidup Anda itu dapat mengeksploitasi hewan dan habitat yang rentan.

Sebagai jurnalis foto, Emily Garthwaite telah merekam penderitaan hewan-hewan di balik layar di tempat-tempat wisata di seluruh Asia. Di Jaipur, India, ia memiliki bukti bahwa tempat yang disebut "tempat perlindungan" justru memperlakukan gajah secara salah dan memaksa untuk membawa para turis meskipun itu berarti gajah tersebut menderita tekanan yang sangat besar.

Ozon si orangutan di Kebun Binatang Bandung meniru perilaku merokok dari pengunjung. (Foto: AFP)

Di Sumatera, Indonesia, Garthwaite menyaksikan orangutan menjadi terbiasa dengan makanan yang diberikan para pemandu wisata liar dan menjadi agresif dalam mempertahankannya. Belum lagi kerumunan orang dan berkas lampu kilat: situasi yang dihadapi orang-orangutan itu menjadi tragis.

Tur wisata ke kawasan orangutan ini merupakan bagian dari suatu paket perjalanan, dan meskipun ada upaya sejumlah agen perjalanan untuk menyaring jenis tur yang paling tidak etis, masih ada permintaan besar dari wisatawan untuk mendapat pengalaman dekat dengan binatang, yang justru tak berfaedah bagi hewan-hewan tersebut.

"Yang muncul adalah suasana pertunjukan. Ada rasa apatis di situ," jelas Garthwaite.

Mereka mempertanyakan apa yang memotivasi kita untuk melakukan interaksi yang dibuat-buat ini: "Apa yang terjadi di sini? Apakah tidak cukup melihat mereka sebagaimana adanya? Mengapa kita harus menyentuh, mengambil, dan menunggangi mereka? Mengapa kita seakan perlu berinteraksi langsung dengan mereka agar tampak mendapat pengalaman autentik?"

Garthwaite berupaya menyediakan hubungan emosional antara subjek dan audiensnya melalui fotografi. "Ini adalah dinamika yang sulit di mana Anda ingin audiens terlibat tetapi tidak kecewa," jelasnya.

Dengan membingkai subjeknya secara setara, ia bertujuan membantu audiens merenungkan gambar-gambar yang ada dan memahami perasaan dan pengalaman hewan. "Kontak mata sangat penting dalam foto binatang karena itu memungkinkan penonton untuk benar-benar melihat binatang itu."

Beruang madu yang ditahan di Tanjung Medan, Sumatera, Indonesia. (Foto: Emily Garthwaite/Wildlife Photographer of the Year)

Baru-baru ini fotonya Garthwaite tentang beruang madu yang ditahan dalam kondisi mengerikan sangat dipuji oleh para juri kompetisi Wildlife Photographer of the Year. Sejak itu, dia kewalahan oleh pertanyaan orang-orang yang peduli akan masa depan beruang tersebut.

Melalui Tim Beruang Madu Sumatera, sebuah tempat perlindungan sedang disiapkan untuk merawat banyak beruang yang telah diselamatkan dari situasi yang sama suramnya.

Mudah-mudahan ini akan menjadi babak baru yang positif bagi beruang, tetapi Garthwaite bertekad untuk terus berbagi cerita tentang hewan-hewan tersebut dan mendorong orang berpikir sebelum memesan tur wisata apa pun.

"Turis harus ingat bahwa jika Anda membayar dengan harga murah, Anda akan mendapatkan pengalaman yang tak jujur," ungkap dia, "Anda harus membayar untuk sesuatu yang orisinal dan menaruh kepentingan hewan itu di atas segalanya, kesejahteraan mereka harus yang diutamakan."

Saran ahli adalah untuk melakukan pekerjaan rumah Anda. "Mungkin ada pengalaman kehidupan liar yang bagus," kata Hannah Brooks, Community Engagement Manager, di Kebun Binatang Zoo.

Dia mendesak para wisatawan agar sebelum berkunjung terlebih dahulu memeriksa apakah penyedia dan perusahaan wisata itu memiliki reputasi ihwal perlindungan lingkungan dan hak-hak binatang, kemudian untuk memastikan dana Anda akan dibelanjakan secara lokal.

"Jika masyarakat setempat mendapat manfaat dari satwa liar di sekitar mereka, maka itu memberi mereka motivasi untuk merawatnya," ucap Brooks.

Beruang madu di Kebun Binatang Bandung. (Foto: Getty Images)

Para pelestari lingfkungan di Kebun Binatang Chester berupaya agar perawatan hewan di seluruh dunia menerapkan standar yang tinggi, termasuk dalam kolaborasi mereka dengan Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI).

Selain berbagi pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan spesies-spesies hewan, mereka bekerja dengan staf kebun binatang untuk meningkatkan informasi pendidikan yang mereka tawarkan kepada pengunjung.

"Mereka memang banyak melakukan berbagai penyuluhan, tetapi tidak benar-benar melakukan pendidikan pelestarian, jadi mereka tidak memasukkan pesan tentang mengapa hewan terancam di alam liar dan bagaimana orang dapat mengambil tindakan untuk membantu," jelas Brooks.

"Akan sangat berbeda jika mereka menyadari bahwa mereka bisa menambahkan beberapa pesan saja lagi untuk bisa membuat (pengunjung) lebih aktif dalam konservasi."

Asia Tenggara adalah pusat perdagangan ilegal satwa liar, sehingga Brooks dan rekan-rekannya berkolaborasi dengan masyarakat setempat untuk memahami motivasi uang dan budaya di balik kegiatan tersebut.

Melalui program pendidikan, para konservasionis bertujuan mendorong munculnya alternatif yang bermanfaat bagi masyarakat dan melindungi satwa liar.

Terkadang, bahkan dengan niat terbaik, Anda dapat mengeksploitasi hewan tanpa disadari. Tetapi, masih ada cara Anda dapat membantu satwa liar berlibur.

Kebun Binatang Chester juga merupakan mitra pada proyek aplikasi ponsel cerdas Wildlife Witness yang dapat digunakan wisatawan untuk melaporkan perdagangan satwa liar ilegal.

Misalnya jika melihat trenggiling dijual, atau harimau ditangkap sehingga stress, Anda dapat mencatat lokasi dan detailnya sehingga pejabat dapat menyelidiki dan mengintervensi.

Nah, ketimbang mencapai kepuasan instan dalam interaksi dengan hewan melalui tanda centang pada daftar atau unggahan cepat di Instagram, kita dapat berinteraksi dengan satwa liar dengan lebih sensitif. Bahkan, fotografer Garthwaite merekomendasikan untuk meletakkan lensa Anda ke pertanyaan yang benar dan menghargai lingkungan.

Dia suka mengingat kenangan masa kecil dari kunjungan ke Durrell Wildlife Park, Jersey, di mana ayahnya bekerja sebagai ahli zoologi. "(Lahan konservasi) begitu padat dengan dedaunan sehingga kamu hampir tidak bisa melihat apa-apa. Tapi dari kejauhan, saya melihat kaki beruang berkacamata, dan saya puas."

Ketika Anda meluangkan waktu dan melibatkan semua indera Anda, bahkan pandangan jauh atau pandangan sekilas tentang binatang dapat menggembirakan. Di mana pun Anda berada, interaksi dengan binatang harus dilandasi penghormatan dan tak terlupakan untuk alasan-alasan yang benar.

Anda bisa membaca artikel aslinya How to Help Wildlife on Holiday dan artikel-artikel lainnya di BBC Earth.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini