nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kesaksian Warga Kazakhstan soal Pengasingan yang Dialami Muslim Uighur di China

Fadel Prayoga, Jurnalis · Minggu 13 Januari 2019 05:41 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 13 337 2003709 kesaksian-warga-kazakhstan-soal-pengasingan-yang-dialami-muslim-uighur-di-china-Rv63SAaNgK.jpg Gulbachar Jalilova (54) pernah ditahan di kamp bersama muslim Uighur. (Foto : Fadel Prayoga/Okezone)

JAKARTA – Gulbachar Jalilova (54), terbata-bata saat menceritakan kekejaman yang ia alami saat harus menjalani penahanan di Provinsi Xinjiang, China beberapa waktu lalu. Sesekali ia meneteskan air mata karena betapa sadisnya penyiksaan yang menimpa dirinya.

Ibu tiga anak itu menjalani penyiksaan selama 16 di kamp bagi muslim Uighur yang dianggap pemerintah setempat sebagai fasilitas pendidikan keterampilan dan baru dibebaskan pada September 2018 lalu. Ia bisa bebas lantaran memiliki passport warga negara Kazakhstan.

"Alhamdulilah saya bisa keluar karena saya warga negara Kazakhstan," kata Gulbachar yang diterjemahkan relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) ke Bahasa Indonesia di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (12/1/2019).

Gulbachar dengan mata berkaca-kaca kembali melanjutkan ceritanya. Mereka yang ada di sana dikumpulkan di dalam satu ruangan dan diawasi dengan kamera pengintai. Seluruh korban Uighur itu dilarang melakukan ibadah sebagai umat Islam.

"Korban-korban yang berada di sana tidak bisa keluar karena kegiatan seharian hanya di dalam satu ruangan. Ibadah dan salat bahkan aplikasi ditemukan ayat Alquran gambar masjid hal-hal yang berbau Islam," kata dia.

Setiap hari mereka yang berada di dalam kamp itu dipaksa bangun sejak pukul 05.30 dan baru bisa tidur sekira pukul 22.30. Selama itu mereka dilarang bergerak karena bila ketahuan melalui kamera pemantau akan dikira sedang beribadah.

"Satu layar TV, ada presiden TV di China enggak boleh bergerak sama sekali. Mereka wajib duduk aja. Jika ada saja yang menoleh, dianggap melaksanakan ibadah akan dapat penyiksaaan dan hukuman," ujarnya.

Muslim Uighur (Getty Images)

Semua tahanan di sana, kata dia, tangan dan kakinya diborgol. Bahkan untuk borgol kaki beratnya mencapai 5 kilogram. Mereka hidup dalam kelaparan dan kehausan. Ketika mereka mengeluh akan hal itu maka dikira penjaga di sana sedang merencanakan sesuatu.

"Hidup dalam kelaparan, dahaga, disiksa. Saya sendiri selama ditahan turun 20 kilogram," kata dia.

Yang lebih kejam dari penyiksaan itu, yakni ada seorang perempuan sudah hamil tua dan akhirnya melahirkan, lalu dia harus dipisahkan dengan sang buah hati. Sehingga, anak bayi itu tak mendapatkan ASI yang harusnya ia terima.

"Ada di antara perempuan sudah hamil besar dan melahirkan, anak ibu dipisahkan dan sama sekali tidak diberikan ASI," ucapnya.

Gulbachar akhirnya bisa keluar dari kamp itu berkat kegigihan keluarga dan pemerintah Kazakhstan yang melakukan lobi ke China. Tiga hari jelang jari pembebasan ia diasingkan dengan muslim Uighur lainnya.

Saat itu, penjaga di sana yang awalnya sangat galak kepada para tahanan, berubah 180 derajat dari perilaku biasanya. Ternyata, mereka memiliki niat busuk, yakni mengancam Gulbachar agar tak menceritakan kejadian yang ada di kamp tersebut.

"Saya diberi krim supaya kulit tidak terlihat bekas luka-luka. Tapi ternyata mereka ancam saya agar tidak menceritakan segala kejadian di sana," kenang Gulbachar.

demo membela muslim Uighur. (Foto: Sarah)

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur Seyit Tumturk menjelaskan, rakyat Uighur mengalami penyiksaan selama ditangkap oleh Pemerintah Cina. Dirinya mengapresiasi muslim Indonesia yang banyak menaruh perhatian.

"Sebagaimana kita ketahui Turkistan Timur berada dalam penindasan oleh Pemerintah Komunis Cina. Itulah kedatangn kita ke Indonesia untuk berterima kasih. Dalam hitungan PBB mengerluarkan angka tahanan adalah satu juta, akan tetapi menurut kita, data kita, jumlahnya 3-5 juta orang. Meraka dalam tahanan mendapatkan perlakuan tahanan lebih kejam dari NAZI," ujarnya.

(Baca Juga : Mengapa Ketegangan Antara Pemerintah China dan Etnis Uighur Terus Terjadi?)

Ia menyayangkan, atas sedikitnya respon muslim dunia atas masalah tersebut. Ia berharap seluruh umat Islam bersatu melawan kezaliman pemerintah China.

"Sayang sekali sbenayak 35 juta masyakrat muslim Uighur yang dapat kezaliman, dunia buta dan tuli apa yamg terjadi di Turkistan Timur (Uighur)," kata dia.

(Baca Juga : Din Syamsuddin Kecam Penindasan terhadap Muslim Uighur di China)

1
2

Berita Terkait

Uighur

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini