Share

Dari Dalam Lapas Cipinang, Labora Sitorus Tanggapi Hasil Eksaminasi Komnas HAM

Puteranegara Batubara, Okezone · Senin 07 Januari 2019 18:09 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 07 337 2001146 dari-dalam-lapas-cipinang-labora-sitorus-tanggapi-hasil-eksaminasi-komnas-ham-LALdhLN4ds.jpg (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Terpidana Labora Sitorus yang kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang, Jakarta Timur, memberikan tanggapan dari hasil Eksaminasi yang dibentuk oleh Komnas HAM. Pasalnya, dengan adanya hal tersebut, Labora merasa dizalimi selama proses hukumnya berlangsung.

Dalam perkara yang menjeratnya, mantan anggota Polres Raja Ampat itu dijatuhkan vonis oleh Mahkamah Agung dengan hukuman penjara selama 15 tahun dan denda Rp5 miliar.

"Apalagi dalam kasus saya, terkesan ada rekayasa dan dipaksakan. Mulai dari pelaporan, penyelidikan, penyidikan, penahanan sampai dengan putusan MA," kata Labora melalui keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin (7/1/2019).

Labora menjelaskan, bahwa Konmas HAM melalui Keputusan Ketua Komnas HAM No 041/KOMNAS HAM/XI/2015 tanggal 23 November 2015 telah membentuk Tim Eksaminasi yang bertujuan memberikan kekuatan rekomendasi Komnas HAM dalam upaya pemenuhan Hak Asasi Manusia dan penegakan hukum terhadap setiap warga negara.

(Baca Juga: Disebut Komnas HAM Jadi Korban, Labora Situros Ajukan Permohonan Grasi dan Amnesti)

Labora menjelaskan, bahwa Laporan Hasil Eksaminasi dan Putusan Hukum pada bulan Desember 2015 lalu itu berisikan, Telah terjadi kesalahan fatal dan serius dalam menetapkan subyek hukum yang dapat diminta pertangungjawaban hukum pidana (Error in Persona), yang mengakibatkan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, persidangan sampai dengan putusan pengadilan serta pelaksanaan putusan (eksekusi) yang direkayasa dan dipaksakan ( error in procedure) yang pada akhirnya menunjukan adanya penyalahgunaan wewenang (a buse of power) dan pengabaian terhadap perlindungan hak asasi manusia.

Labora menambahkan, Tim Eksaminasi juga berkesimpulan telah tejadi tindak pidana oleh polisi, jaksa dan hakim yang dalam kriminologi disebut sebagai bentuk kejahatan yang dilakukan oleh negara (state crime) yang melanggar hak asasi dirinya.

Selain itu, Tim Eksaminasi juga menyimpulkan bahwa amar putusan MA No. 1081K/PID.SUS sekedar mencocokkan dengan ketentuan pasal 197 KUHAP, maka putusan tersebut dapat dinyatakan batal demi hukum.

"Atas dasar hasil eksaminasi Komnas HAM tersebut, saya meyakini saya memang telah menjadi korban atas perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukannya dan telah dihukum secara semena-mena. Untuk itulah saya maupun keluarga akan terus melakukan perlawanan agar mendapatkan keadilan," terang Labora.

Bahkan, gara-gara kasus yang menimpanya, Labora menderita sakit stroke saat mendekam di penjara. Hingga kini ia masih menjalani pengobatan yang dilakukan secara berkala di luar Lapas Cipinang.

"Saya sangat terpukul dengan vonis 15 tahun. Apalagi semula Pengadilan Negeri Sorong hanya memutus dua tahun penjara," ucap Labora.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini