Alami 37 Gempa Hembusan, Gunung Anak Krakatau Masih Siaga

Muhamad Rizky, Okezone · Senin 07 Januari 2019 10:41 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 07 337 2000869 gunung-anak-krakatau-alami-46-gempa-letusan-OPqF8ug5WK.jpg Gunung Anak Krakatau meletus (Courtesy Susi Air)

JAKARTA – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Lampung mengalami 46 kali gempa erupsi atau letusan dan 37 kali gempa hembusan, pada Minggu 6 Januari 2019, seperti terekam di seismograf. Tapi, statusnya masih level III atau Siaga.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa gempa tremor terus menerus tercatat dengan amplitudo 1-12 mm dan dominannya 5 mm.

“Dari kemarin hingga pagi ini visual gunung api tersebut terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati dengan tinggi sekitar 1000 meter dari puncak berwarna putih-kelabu. Angin bertiup sedang ke arah timur laut dan timur,” tulis PVMBG dalam situs resmi Badan Geologi Kementerian ESDM, Senin (7/1/2019).

Erupsi Gunung Anak Krakatau (KRI Rigel TNI AL)

Laporan terakhir tercatat pukul 17.34 WIB kemarin, erupsi terjadi di Anak Krakatau dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.110 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1.000 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.

View this post on Instagram

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyatakan bahwa Gunung Anak Krakatau masih berstatus Siaga atau level III. “Daerah berbahaya di dalam radius 5 kilometer. Masyarakat diimbau tenang dan meningkatkan kewaspadaan. Jalur pelayaran Merak-Bakaheuni aman. Tidak terpengaruh letusan,” katanya melalui akun Twitter @Sutopo_PN, Jumat (4/1/2019). .. Sutopo mengunggah sebuah grafik histogram kegempaan Gunung Anak Krakatau lalu menjelaskan maksudnya bahwa selalu ada jeda waktu istirahat beberap hari kemudian meletus beruntun dari Gunung Anak Krakatau. Jika ada letusan baru, itu sudah perilaku Gunung Anak Krakatau. PVMBG terus memantau aktivitas vulkanik GAK. .. “Gunung Anak Krakatau tidak akan meletus seperti ibunya (Gunung Krakatau) tahun 1883. Jika ditemukan ada retakan saat ini. Itu wajar pada gunungapi pascaletusan. Percayakan pada PVMBG selaku otoritas pemantau gunungapi. Mereka punya alat, SDM, ilmu dan pengalaman,” ujar Sutopo. .. Tahun 1883, tiga gunung api di Selat Sunda yakni Gunung Rakata, Gunung Danan dan Gunung Perbuatan meletus bersamaan. Letusannya besar dan menimbulkan tsunami besar setinggi 36 meter. Lalu gunungnya hilang. Tahun 1927, muncul Gunung Anak Krakatau. “Tidak mungkin letusan GAK akan sama tahun 1883.” .. Sementara hari ini pukul 09.39 WIB, Gunung Anak Krakatau juga mengalami erupsi. Sutopo menjelaskan bahwa tinggi kolom abu dalam erupsi tadi teramati lebih kurang 1.500 meter di atas puncak. Kolom abu putih hingga kelabu. Masyarakat atau wisatawan dilarang mendekati kawah dalam radius 5 kilometer dari kawah. #News #TauCepatTanpaBatas

A post shared by Okezone.com (@okezonecom) on Jan 4, 2019 at 6:00pm PST

Status Gunung Anak Krakatau masih siaga sejak 27 Desember 2018. Gunung setinggi 110 meter dari permukaan laut (mdpl) itu mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

Karena aktivitasnya masih tinggi, masyarakat atau wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 kilometer dari kawah.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini