nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mereka yang Memilih Menjadi Dermawan di Tengah Keterbatasan

ABC News, Jurnalis · Selasa 01 Januari 2019 18:36 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 01 337 1998672 mereka-yang-memilih-menjadi-dermawan-di-tengah-keterbatasan-UJ53l6lfV8.jpg (Foto: ABC News)

MENYUSUN resolusi positif merupakan tradisi yang biasa dilakukan orang begitu memasuki tahun yang baru. Apa resolusi anda tahun ini? Bagaimana dengan lebih banyak membantu orang lain. Seperti yang banyak dilakukan masyarakat Indonesia yang diakui sebagai negara paling dermawan di dunia.

Survey internasional World Giving Index 2018 yang dirilis beberapa waktu lalu telah menempatkan Indonesia di peringkat teratas daftar negara paling dermawan sedunia, disusul Australia, Selandia Baru, Amerika, dan Irlandia.

Indeks ini mengukur tiga aspek kebaikan yang dilakukan masyarakat suatu negara, yakni membantu orang yang tidak dikenal, memberi sumbangan, dan menjadi relawan.

Jika membantu atau meringankan beban orang lain menjadi bagian dari resolusi anda tahun ini, mungkin kiprah dua sosok dermawan berikut ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi anda untuk mengejar resolusi positif tersebut.

Jualan Pempek untuk bantu orang berobat

Mengupayakan kesembuhan pasien tidak mampu yang tak berdaya telah menjadi tekad dan janji kepada Tuhan bagi Funnywati Sucipto (45). Hal itu dia wujudkan dengan berjualan makanan khas Palembang, Pempek dan dalam kondisi nyaris kehilangan penglihatannya.

Semua berawal ketika suatu hari pada awal Juni 2015 lalu, pembuluh mata sebelah kanan Funnywati pecah dan mengakibatkan pendarahan yang menutupi seluruh bola matanya.

"Pendarahan di mata saya ketika itu sangat parah, sampai-sampai dokter yang menangani saya mengatakan hanya Tuhan yang tahu berapa persen peluang mata kamu bisa disembuhkan," tuturnya kepada jurnalis ABC Indonesia, Iffah Nur Arifah di Jakarta.

(Baca juga: Orang Terkaya Ketiga di Dunia Habiskan Uangnya dengan Cara Ini)

Penanganan medis yang dijalaninya memaksa Funny, demikian akrab disapa, untuk beristirahat total selama berhari-hari dan hanya mengandalkan mata sebelah kirinya. Kondisi ini sangat menyiksa baginya yang terbiasa hidup sebagai wanita karir yang sibuk di sebuah rumah produksi terkenal di Ibu Kota.

Kejadian ini juga membuatnya sadar betapa berharganya sebuah kesembuhan. Sebagai penganut agama Budha, Ia pun berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan YME dan berdoa agar diberikan kesembuhan. Ia pun berjanji akan memperbanyak cinta kasih dan belas kasih dalam hidupnya.

Sambil mengisi waktu saat menjalani pengobatan matanya, Funnywati memilih berjualan Pempek, panganan khas kota kelahirannya, Palembang. Dan sesuai dengan janjinya, Funny menyisihkan setengah dari keuntungannya berjualan pempek untuk disumbangkan.

Foto: ABC News

Tak disangka penjualan Pempek+donasi sosialnya mendapat dukungan luar biasa. Akhirnya ia pun bisa membantu orang lain. Dimulai dengan kegiatan menyantuni anak jalanan, kegiatan sosial yang dilakukan Funny terus berlanjut.

Sampai pada suatu ketika di tahun 2016, Ia bertekad membantu kesembuhan seorang anak dari keluarga tidak mampu dan mulai melakukan penggalangan dana lewat rekening donasi Pempek Funny - merek jualannya.

Kesungguhannya dalam membantu orang lain yang diunggah melalui akun media sosialnya, telah membuat banyak orang mempercayakan tergerak untuk ikut membantu dan menyalurkan donasinya lewat Pempek Funny.

Hingga kini sudah tidak terhitung jumlah warga dan pasien tidak mampu yang ditolongnya berkat dana hasil penjualan pempek maupun donasi masyarakat. Dari melayani permohonan bantuan keperluan bayi dan anak seperti susu, popok dan lainnya, hingga mengobati berbagai macam penyakit, mulai dari jantung, kanker, hingga gangguan jiwa karena korban pemerkosaan.

Halaman akun media sosial Pempek Funny penuh dengan gambar mereka yang ditolongnya yang kebanyakan adalah bayi dan anak-anak dari keluarga yang tidak mampu dari berbagai pelosok di Tanah Air.

"Saya hanya mensyaratkan akan membantu mereka yang belum viral di media sosial, karena saya mau tolong mereka yang belum terjangkau bantuan. Dan mereka kebanyakan ada dari daerah-daerah."

Dalam membantu mengupayakan kesembuhan Funnywati juga selalu mencari upaya terbaik, meskipun itu berarti harus berobat ke luar negeri dan memakan biaya hingga ratusan juta bahkan miliaran.

"Tapi Saya enggak mau stress karena itu semua, saya hanya yakin kalau saya sudah terpanggil, Tuhan akan bantu dan Tuhan yang akan membukakan jalan,"

Doa dan keyakinan Funny terkabul, sehingga pengabdiannya membantu orang lain terus berlanjut dan sudah berjalan selama 3 tahun terakhir.

Semua itu dilakoninya dalam kondisi mata kanannya yang belum pulih sepenuhnya. Hingga kini Funny masih harus menjalani terapi suntikan di bola matanya rutin setiap beberapa bulan, yang menurut pengakuannya sudah setahun ini dia lewatkan lantaran sibuk mengantar berobat pasien yang ditolongnya.

Tukang parkir pengasuh anak penderita HIV/AIDS

Pengalaman hidup sebagai anak jalanan telah menempa rasa empati yang kuat dalam diri Puger Mulyono. Sehingga ketika pada 2012 lalu ada seorang kerabat menawarkan dirinya untuk mengurus seorang anak yatim piatu berusia 4 tahun yang terlantar dan ditolak rumah sakit karena positif HIV, Ia tidak kuasa untuk menolaknya.

"Ketika awal itu saya gak ada mikir apa-apa, hanya rasa kasihan saja. Soalnya saya hidup di jalan sejak kecil, saya merasa kalau dulu saya tidak ditolong orang, saya mungkin juga gak bisa hidup, gak bisa makan. Saya tidak tega memikirkan anak itu ditelantarkan, jadi saya terima dan rawat anak itu," ungkap Puger Mulyono.

Kisah ini mengawali kiprah Puger Mulyono mengasuh anak-anak penderita HIV/Aids. Dibantu temannya Ia kemudian menyewa sebuah rumah di Bumi Laweyan, Surakarta dan mendirikan Yayasan Lentera.

Sejak tahun 2012 hingga sekarang, Puger Mulyono telah merawat lebih dari 50 orang anak penderita HIV/AIDS dari seluruh Indonesia. 10 orang di antaranya sudah meninggal dunia dan sebagian ada yang sudah kembali diterima oleh keluarganya.

Di mata Puger Mulyono mereka adalah anak-anak yang tidak berdosa dan korban stigma HIV/AIDS.

Padahal merawat dan mengangkat bayi bukan perkara mudah bagi Puger Mulyono, terlebih anak bayi dengan HIV/Aids yang memiliki kebutuhan penanganan kesehatan khusus. Lantaran sehari-hari Puger Mulyono hanya berprofesi sebagai tukang parkir di salah satu ruas jalan utama di kota Solo, Jawa tengah dengan pendapatan tidak lebih dari Rp50 ribu setiap hari.

Foto: ABC News

Bukan pendapatan yang besar apalagi Puger juga masih harus menghidupi istri, empat anak kandungnya. Karena itu, Puger Mulyono mengaku di awal perjuangannya mengasuh anak-anak penderita HIV ia dan keluarganya terpaksa hidup pas-pasan.

"Dulu saya menghidupi keluarga dan anak-anak hanya dari kantong saya sendiri, dari upah jadi tukang parkir. Anak-anak sering tanya 'Pak, hari ini kita makan gak, saking sulitnya."

"Untuk obat mereka, saya awalnya juga gak mampu beli obat, jadi saya pakai ramuan tradisional aja, saya tanya-tanya pakai ini itu yang penting imun mereka bagus. " tuturnya.

Selain berjuang secara finansial, pilihannya untuk merawat anak-anak HIV/Aids juga telah membuat dia dan keluarganya terusir dari rumah kontrakan mereka. Lantara warga di sekitar tempat tinggal mereka takut tertular HIV.

Syukurlah menurut Puger Mulyono, saat ini pandangan masyarakat telah lama berubah. Ia dan keluarga besarnya kini juga telah memiliki rumah tinggal yang nyaman yang dihibahkan dari pemerintah kota Solo. Dan Yayasan Lentera yang didirikannya juga mendapat banyak bantuan untuk operasional mereka sehari-hari juga obat-obatan.

Puger Mulyono mengatakan kunci utama mengembangkan kedermawanan adalah niat yang ikhlas.

"Berbuat baik tidak usah menunggu kita mampu, dan menolong orang jangan pandang bulu, Jika niat kita ikhlas Tuhan pasti tahu dan akan bantu."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini