nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BNPB: Korban Longsor Sukabumi Bertambah, 5 Tewas dan 38 Masih Dicari

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Selasa 01 Januari 2019 11:43 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 01 337 1998531 bnpb-korban-longsor-sukabumi-bertambah-5-tewas-dan-38-masih-dicari-pPjsCB25sH.jpg Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho (foto: Isra Triansyah/KoranSINDO

JAKARTA - Proses evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban longsor yang menimbun 30 unit rumah terus dilakukan oleh Tim SAR gabungan di Dusun Garehong, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Diketahui, bencana longsor di desa adat tersebut terjadi pada, Senin 31 Desember 2017, sekira pukul 17.30 WIB.

"Data sementara per 1/1/2019 pukul 10.00 WIB dari Posko Tanggap Darurat di Desa Sirnaresmi tercatat 32 KK (107 jiwa) terdampak longsor dimana, lima orang meninggal dunia, tiga orang luka-luka, 61 orang selamat dan ditempatkan di pengungsian, dan 38 orang belum ditemukan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kepada Okezone, Selasa (1/1/2018).

(Baca Juga: BNPB: Cari Korban Longsor di Sukabumi Perlu Alat Berat) 

Jelang Akhir Tahun, Longsor Timbun Puluhan Rumah di Sukabumi

Sutopo menjelaskan, hingga pukul 10.00 WIB hari ini, ditemukan 3 korban meninggal dunia yaitu satu orang laki-laki, satu orang perempuan dan satu orang bayi. Sebelumnya, ditemukan 2 dua korban meninggal dunia yakni, satu laki-laki dan satu perempuan. Sehingga, total korban meninggal hingga saat ini 5 orang.

"Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, PMI, Tagana, SKPD, relawan dan masyarakat masih terus melakukan pencarian terhadap 38 orang korban yang diduga masih tertimbun longsor," imbuhnya.

Tim gabungan sendiri masih melakukan pencarian secara manual karena alat berat sulit didatangkan di lokasi bencana. Kata Sutopo, tiga alat berat sebenarnya sudah disiapkan namun masih sulit didatangkan ke lokasi karena akses jalan yang sempit, berbukit dan medannya berat.

(Baca Juga: Dua Korban Longsor di Sukabumi Kembali Ditemukan dalam Kondisi Meninggal Dunia) 

"Bantuan terus berdatangan tapi terhambat oleh banyaknya masyarakat yang melihat bencana. Wisata bencana seperti ini selalu terjadi di saat bencana. Masyarakat berdatangan ingin melihat lokasi bencana," ungkap Sutopo.

"Ada juga ingin menengok dan membantu kerabat yang terkena bencana. Kondisi jalan yang sempit menyebabkan bantuan, baik personil SAR, logistik, ambulan dan sebagainya terhambat kemacetan. Hal ini juga terjadi saat penanganan bencana seperti tsunami di Pandeglang dan Serang, longsor Banjarnegera, longsor Brebes, jebolnya Situ Gintung dan sebagainya," sambungnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini